Menuju Danau Toba Sebagai New Bali Bersama PUPR (Day 1)

Danau Toba yang berada di Provinsi Sumatera Utara memiliki keindahan alam yang sangat luar biasa. Saya dan dua orang teman blogger beserta beberapa reporter lainnya pada tanggal 8 sampai dengan 10 November lalu diberi kesempatan untuk secara langsung menikmati keindahan tersebut. Kami tergabung dalam tim media visit bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.


Rombongan media visit ini berjumlah 16 orang termasuk perwakilan dari Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR yang di ketuai Pak Krisno Yuwono. Tim bertolak dari Jakarta sekitar pukul 7.30 pagi dari bandara internasional Soekarno-Hatta dengan tujuan bandara internasional Siborong-borong Silangit.

Kami sampai sekitar jam 10.00 WIB dan langsung diajak sarapan dulu di salah satu kedai masakan Padang. Sebenarnya pengen makan, makanan khas di situ, namun karena beberapa hal, maka kami pun menikmati santapan yang telah disediakan.


Beberapa waktu lalu, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan pemerintah telah mencanangkan 10 KSPN sebagai "New Bali," guna mencapai target 20 juta wisatawan ke Indonesia tahun 2019. Salah satu yang ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) adalah Danau Toba. Untuk mendukung program tersebut, pemerintah, melalui Kementerian PUPR melakukan berbagai pembangunan dan penanganan jalan lingkar pulau Samosir.

“Pembangunan infrastruktur pada setiap KSPN direncanakan secara terpadu baik penataan kawasan, jalan, penyediaan air baku dan air bersih,  pengelolaan sampah, sanitasi, dan perbaikan hunian penduduk melalui sebuah rencana induk pembangunan infrastruktur,” jelas Menteri Basuki.


Saat ini Kementerian PUPR tengah meningkatkan kualitas jalan lingkar Pulau Samosir sepanjang 123,9 Km dan melakukan pelebaran jalan akses menuju Pulau Samosir dari Simpang Tele sepanjang 22 Km. Ketersediaan infrastruktur jalan dengan kondisi yang baik dan layak guna akan memudahkan wisatawan untuk mencapai lokasi wisata di sekitar Pulau Samosir seperti Museum Batak di Tomok, Tiga Danau, dan Tano Ponggol.


Kunjungan pertama rombongan kami diajak untuk melihat pembangunan pedestrian dan pemasangan lampu penerangan jalan sepanjang jalur Sisingamangaraja yang menjelujur dari Desa Untemungkur hingga Hotanagodang Muara, Tapanuli Utara.

Lokasi yang di bangun berada ditepian Danau Toba, hal ini dimaksudkan untuk mendukung wisata Danau yang melintasi 7 kabupaten di wilayah tersebut.

Ada 4 jalan yang dibangun, yaitu:
Jalan 4 dengan panjang 890 m
Jalan 2 sepanjang 480 m
Jalan 3 yang berada di di simpang Utemungkur dengan panjang 865 m, plus pengaspal sepanjang jalur ini sampai dengan pasar Muara.
J1 sepanjang 444 m


Proyek PUPR ini dimulai sejak September 2017 meliputi 4 Kabupaten, yaitu Tapanuli Utara, Samosir, Toba Samosir dan Simalungun. Proyek meliputi pengaspalan, drainase, lampu penerangan dan pedestrian. Hingga saat ini pembangunan sudah mencapai 90% tinggal menunggu sambungan listrik dari PLN. Rencananya pada 15 Desember 2018 sudah bisa di ujicoba.

Semua penerangan menggunakan lampu LED berwarna kuning, sehingga saat malam selain menjadi penerang jalan akan terlihat sangat indah dan romantis. Beberapa penduduk yang sempat saya tanya tentang dampak dari pembangunan ini mayoritas menyatakan sangat mendukung dan senang, karena daerah mereka tersentuh pembangunan. Harapannya dengan pembangunan tersebut perekonomian mereka pun bisa meningkat.


Wisata Tele Geopark Kaldera Danau Toba

Setelah meninjau pembangunan pedestrian dan lampu penerangan jalan, rombongan diajak menyusuri jalan pinggian Danau Toba, di mana keindahannya terpapar dengan anggunnya.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, akhirnya kami sampai di sebuah kawasan wisata Tele Geopark Kaldera Danau Toba yang berada di Kabupaten Samosir. Kawasan tersebut dibangun oleh Kementerian PUPR melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang).


Tempat wisata ini juga dilengkapi dengan fasilitas tempat istirahat atau rest area yang terdiri dua lantai dengan standar internasional dan ramah lingkungan. Pada lantai satu terdapat 5 toilet wanita, 3 toilet pria, 1 toilet difabel, mushola, ruang menyusui dan area parkir. Di lantai dua terdapat area seluas 214 m2 berupa rumah kaca sebagai ruang serbaguna berkapasitas 40 orang, spot swafoto dan balkon. Dan seperti biasa aku dan teman-teman tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengabadikan keindahan tersebut dengan berfoto bersama.

Rest area Wisata Tele juga dilengkapi dengan instalasi pengolahan air dan instalasi pengolahan air limbah sehingga ramah lingkungan. Pengolahan air baku menjadi air bersih oleh Balitbang PUPR menggunakan teknologi multiple tray aerator dan pengolahan air siap minum melalui teknologi reverse osmosis.


Pengolahan air limbah dengan menggunakan teknologi biofil yang merupakan air limbah, kemudian diproses menggunakan sistem anaerobik dalam bak penampungan berkapasitas 5.000 liter yang nantinya dialirkan ke empat kolam sanita.

Di sebelah rest area tersebut ada sebuah bangunan yang di sebut Menara Pandang Tele, di mana kita bisa melihat pemandangan Danau Toba tanpa halangan dari ketinggian. Untuk masuk ke wahana ini kita harus membayar retribusi sebesar Rp7000 rupiah. Namun sayang beberapa spot terlihat kurang terawat.

Simpang Tele

Setelah puas menikmati keindahan alam Danau Toba, perjalanan kami lanjutkan ke arah Simpang Tele, di mana Kementerian PUPR melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) II Medan tengah melakukan preservasi dan pelebaran jalan termasuk penanganan tebing guna mengurangi risiko longsor baik pada jalan akses menuju ke Pulau Samosir dari Simpang Tele menuju ke Pangurunan maupun jaringan jalan lingkar di dalam Pulau Samosir.


Di lokasi kami disambut oleh pak Harry Agustian, selalu General Super Intenant PT Guna Karya Nusantara dan pak Efendi Munthe, selaku Side Engineer, Konsultan Supervisi PT. Buana Arsikon. Kedua bapak tersebut menjelaskan tentang pekerjaan yang tengah mereka tangani.

Selama ini, akses utama untuk menuju ke Danau Toba dan Pulau Samosir dari arah Medan adalah menyebrang dengan fery melalui Parapat. Dengan dibukanya Bandara Silangit sebagai bandara internasional, alternatif akses menuju Danau Toba dan Samosir semakin terbuka tidak hanya melalui Bandara Kualanamu yang berada di Medan.


Sala satu akses jalan ke objek wisata Danau Toba adalah jalur Tele - Panguluran, dan merupakan satu-satunya jalan pintu masuk ke objek wisata Danau Toba melalui darat. Penambahan dan pelebaran jalan di jalur ini termasuk yang harus segera dilakukan demi kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan, mengingat jalan ini sangat sempit dan rawan longsor.

Ruas yang sedang ditangangi sekitar 69 km, pembangunan dilakukan awal 2016 dan di harapkan bisa selesai desember 2019. Pembangunan dibagi 2 paket, paket Samosir 1 dan Samosir 2. Paket 1 adalah Preservasi dan Pelebaran Jalan Pangururan – Ambarita – Tomok – Onan Runggu sepanjang 75,9 Km. Pekerjaan ini berupa pelebaran jalan dengan nilai kontrak sebesar Rp367,21 milia. Progres fisik secara keseluruhan sampai dengan saat ini sebesar 47,9%. Pelaksanaan konsorsium pekerjaan tersebut dibawah PT. Pembangunan Perumahan dan PT. Seneca.


Sementara itu, Paket 2 adalah Preservasi dan Pelebaran Jalan Tele. Ada 3 zona untuk pelebaran jalan ini yaitu zona pertama Onan Runggu - Nainggolan, Nainggolan - Panguluran, Panguluran - Simpang Tele. Dengan panjang 68,43 Km yang terdiri dari kegiatan pelebaran sepanjang 47,1 Km dan pemeliharaan sepanjang 21,33 Km. Alokasi anggaran untuk Paket 2 ini adalah sebesar Rp159,24 miliar dan akan berakhir di Desember 2019. Adapun progres fisik secara keseluruhan sampai saat ini sebesar 75,25%. Pekerjaan ini dilakukan secara KSO antara PT. Gunakarya, Tunas, dan Kurnia.

Selain melapisi jalan dengan aspal, PUPR juga melakukan membetonan pada kiri dan kanan jalan guna menahan longsor. Untuk sisi daerah jurang nantinya akan dibuat rambu pengaman berupa pos dan tiang pengaman. Selain sisi wisata, pembangunan jalan ini juga bisa membantu penyaluran sisi logistik di sekitar Samosir.


Setelah meninjau beberapa lokasi pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh Kementerian PUPR, malamnya kami diajak untuk menginap di sebuah penginapan berupa Cotage bernama Lekjon. Kalau dilihat-lihat kawasan ini perpaduan antara daerah puncak dan Bali. Udaranya sejuk bahkan cenderung dingin, dengan view pinggir Danau Toba yang cantik. Bikin betah dan cocok buat yang honeymoon nih.