4 Hal Kehebatan Industri Makanan di Indonesia

Industri makanan merupakan industri kesayangan Indonesia, karena industri ini bisa mendatangkan investasi dalam jumlah yang cukup tinggi. Dari industri ini Indonesia bisa menjual produk ke negara lain dalam jumlah yang banyak dengan kualitas yang tidak kalah bagus. Hal ini bisa membuat banyak orang Indonesia mendapatkan pekerjaan.



Berikut 4 hal kehebatan industri makanan di Indonesia:

1. Mendatangkan investasi dari dalam maupun luar negeri.

Banyak orang di luar negeri yang membutuhkan dan menyukai produk makanan dari Indonesia, karena negara kita memiliki jenis produk yang beragam.

2. Memberikan banyak lahan pekerjaan.

Di Indonesia ada sekitar 1.041.266 orang yang bekerja di industri makanan.

3. Makin banyak orang yang bisa berjualan produk olahan makanan.

Sampai saat ini ada 8.507 unit usaha uang yang mengolah produk makanan yang menjadi jajahan enak.

4. Daerah-daerah di Indonesia bisa lebih sejahtera.

Indonesia memiliki potensi besar menjadi juara di industri makanan dan minuman di Asean. Berikut cara pemerintah agar Industri makanan di Indonesia tetap sehat.
  • Memberikan keringanan tax atau pajak (tax holiday dan tax allowance)
  • Memberikan bantuan peralatan seperti mesin dan promosi di dalam maupun di luar negeri.
  • Memberikan pelatihan desain, teknologi dan keterampilan baru bagi para karyawan industri.
  • Peraturan yang melindungi konsumen.
  • SNI atau standarisasi, agar kualitas produk makanan kita tidak kalah dengan produk negara lain.
Perusahaan makanan dan minuman termasuk dalam sektor terbesar yang mendukung  keberhasilan Indonesia di era industri 4.0. Ketika produk kita semakin banyak diekspor, maka industri kita akan semakin canggih.



Pada 4 April 2017 lalu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meresmikan peluncuran program Making Indonesia 4.0. Program ini, nantinya akan dilibatkan institusi pemerintahan, asosiasi industri, pelaku usaha, penyedia teknologi, serta lembaga riset dan pendidikan.

Menurut Pak Airlangga program ini merupakan salah satu strategi pemerintah Indonesia dalam menghadapi era digital, di mana era yang mampu merubah teknologi dan informasi di segala bidang, termasuk peranan persaingan global dalam dunia industri.

Program Making Indonesia 4.0, ini juga merupakan cita-cita yang ingin dicapai pada tahun 2030 nanti. Cita-citanya gak muluk-muluk, hanya ingin menjadikan Indonesia sebagai 10 ekonomi global. Nah dalam mewujudkan cita-cita tersebut, industri di Indonesia harus bisa menguasai 5 teknologi penopang industri 4.0 yang terdiri dari:
  1. Internet of Things
  2. ArticialIntelligence
  3. Human-Machine Interface
  4. Teknologi robotik
  5. Teknologi 3D printing. 
Untuk Internet of Things saat ini penggunaan yang sudah terasa manfaatnya di masyarakat Indonesia. Karena pada dasarnya, IoT tersebut merupakan pemanfaat internet dalam jangkauan yang lebih luas dan dapat terkoneksi secara terus menerus. Internet of Think berfungsi sebagai remote control untuk berbagai data.

Contoh dari IoT untuk dunia industri menengah ke bawah bisa dirasakan adalah akses online shop yang bisa diakses di mana saja dan kapan saja. Seperti kita ketahui, saat ini siapa saja bisa membuat toko online masing-masing di dunia maya, dan bisa memonitornya di mana saja dan kapan saja pula.



Oh ya, ngomongin persaingan global industri guna mencapai target 2030. Menteri Perindustrian akan memulai menjalankan programnya dengan memfokuskan pada 5 sektor industri unggulan.

1. Industri Makanan dan Minuman.
2. Industri tekstil dan pakaian
3. Industri otomotif
4. Industri kimia
5. Industri elektronik

Pemilihan ke-5 industri ini dipilih berdasarkan evaluasi dampak ekonomi dan kriteria kelayakan dari implementasinya. Khususnya di industri makanan dan minuman. Industri di sektor makanan dan minuman saat ini Indonesia telah mampu mengekspor produk-produk terbaiknya ke berbagai negara. Untuk kedepannya pemerintah kita menargetkan ekspor ke berbagai bidang ke Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, India dan Singapura.

Untuk mewujudkan program Making Indonesia 4.0 pada 5 sektor industri tersebut, selain dibutuhkan teknologi dan penguasaan, program ini juga harus didukung oleh 10 inisiatif nasional:

  1. Perbaikan alur aliran barang dan material
  2. Membangun satu peta jalan zona industri yang komprehensif dan lintas insdustri
  3. Mengakomodasi standar-standar keberlanjutan
  4. Memberdayakan industri kecil dan menengah
  5. Membangun infrastuktur digital nasional
  6. Menarik investasi asing
  7. Peningkatan kualitas sumber daya manusia
  8. Pembangunan ekosistem inovasi
  9. Insentif untuk investasi teknologi
  10. Harmonisasi aturan dan kebijakan

Tak dapat dipungkiri betapa menggiurkannya bisnis sektor industri makanan di negara kita. Selain fakta di atas tentang industri makanan dalam negeri yang telah mampu mengekspor produk secara besar-besaran dengan tak kalah saing, banyak manfaat besar lain dari industri ini.

1. Mendatangkan banyak modal melalui investasi
2. Membuat banyak orang mendapatkan pekerjaan
3. Makin banyak orang yang bisa berjualan produk olahan makanan
4. Akan banyak daerah di Indonesia semakin sejahtera

Data-data menyebutkan, tahun 2017 ekspor industri makanan di Indonesia telah mencapai 49.60 miliar dolar, sedangkan nilai impornya hanya 14 miliar. Fakta menarik lainnya menyebutkan ada sekitar 1.041.266 orang yang bekerja untuk industri makanan. Hal ini membuktikan semakin layaknya industri makanan dalam negeri kita yang wajib ditopang dan dikembangkan dengan sistem industri 4.0 ini.



Nah, salah satu industri makanan dan minuman dalam negeri yang sudah menerapkan sistem industri 4.0 adalah PT. Mayora. Di mana sistem tersebut sangat membantu urusan bisnis dalam bidang pemasaran. Contohnya, industri kecil hingga menengah yang bisa menjual  produk secara langsung tanpa harus punya tokok atau jual di pasar.

Untuk lebih mengenal tentang program 4.0 tersebut, Kementrian Perindustrian mengajak para Blogger untuk mengunjungi pabrik PT. Mayora devisi wafer yang berada di Daan Mogot Jakarta. Selain Blogger ada Komunitas Media Anak dan Reporter Cilik atau Repcil yang sama-sama melakukan kunjungan ke pabrik. Jadi, bukan hanya sekedar kunjungan, tapi lebih ke edukasi dan pengenalan tentang bagaimana PT. Mayora menjalankan produksinya.


Selain diajak keliling pabrik, acara juga diisi dengan pengenalan tentang apa dan siapa itu PT. Mayora dan games yang seru banget. Ternyata Mayora punya singkatannya dari setiap hurufnya loh.

M: Memenuhi persyaratan, peraturan dan undang-undang yang berlaku
A: Aman dikonsumsi, berkualitas dan halal
Y: Yakin bahwa pihak terlibat dengan pendekatan proses dan pendekatan sistem
O: Optimis dalam mencapai tujuan organisasi dan sasaran mutu
R: Respon yang cepat dan fokus pada pelanggan melalui peningkatan berkesinambungan
A: Aktif dalam menjalin hubungan yang saling menguntungkan dengan semua pihak



Sebagai salah satu role model Industri makanan dalam negeri yang sudah menerapkan industri 4.0, Mayora juga sudah menggunakan teknologi modern seperti adanya robotik dalam pengerjaan finishing produk dan penggunaan sistem android yang dirasa sangat membantu perihal pengecekan dan kontrol kualitas produk.

Sebagai perusahaan besar yang telah berdiri sejak tahun 1977, PT. Mayora telah menerapkan 5 sistem imlementasi sebegai berikut:
  • Penerapan standar kehalalan produk oleh MUI Indonesia. 
  • Standar pengecekan makanan oleh BPOM.
  • Sertifikat sistem ISO 22000: 2005 (food safety managemant system).
  • Uji kelayakan produk ber-standar nasional Indoneisa (SNI)
  • Standar kehalalan dari lembaga MUI Malaysia.

Saat ini PT. Mayora telah memiliki 27 pabrik dan 5 diantaranya berada di luar negeri
Dengan mengaplikasikan program 4.0 tersebut, PT. Mayora telah mendapatkan banyak manfaat dari penerapan QMS (Quality Mayora System):

1. Pencatatan dan penyampaian data yang valid dan real time
2. Keputusan yang akurat dan cepat
3. Solusi cepat terhadap penyimpangan
4. Konsistensi kualitas produk
5. Minimal human error
6. Paperless

Yang keren, meskipun telah menggunakan kemajuan teknologi, PT. Mayora menyatakan tidak akan mengurangi tenaga kerja yang sudah ada. Karena bagi Mayora tenaga kerja manusia merupakan aset berharga yang harus dipertahankan. Untuk devisi wafer saja jumlah karyawanya sekitar 2.624 orang, terbayangkan betapa banyaknya SDM yang digunakan oleh Mayora.


Upaya Kementerian Perindustrian dalam Meningkatkan Pertumbuhan Industri Kecil dan Menengah.

Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, untuk menunjang keberhasilan Indonesia Making 4.0 yang bertujuan membuat negara kita masuk ke dalam top 10 ekonomi global, diperlukan adanya peran serta dari berbagai pihak, termasuk industri kecil dan menengah (IKM).

Kementerian Perindustrian, dalam meningkatkan pertumbuhan industri kecil dan menengah merangkul berbagai pihak-pihak yang terkait dengan mengadakan program E-Smart IKM. Program E-Smart IKM merupakan sistem berbasis data yang di dalamnya meliputi sentra dan produk IKM yang tersaji secara terintergrasi dengan market place lokal. Beberapa market place lokal yang sudah kerjasama seperti Bukalapak, Tokopedia, Blibli, Blanja dan Shopee.



Program ini nantinya akan menonjolkan 9 produk unggulan dalam pemasaran yang akan dikembangkan melalui pasar online. Produk tersebut yaitu, kosmetik, fashion, makanan, minuman, kerajinan, perhiasan, mebel, herbal dan produk logam. Kemenperin melalui E-Smart IKM ingin menggenjot pertumbuhan fashion, terutama busana muslim.

Dukungan Kemnetrian Perindustrian dalam meningkatkan industri kecil dan menengah tidak hanya melalui e-smart IKM, mereka juga memberikan bimbingan secara teknis kepada para pelaku IKM dengan mengadakan kegiatan lokakarya maupun workshop di seluruh Indonesia.

Kementerian Perindustrian pun juga menyediakan tenaga penyuluhan lapangan PPN dan mendirikan sekolah perindustrian sendiri. Nantinya, para penerima beasiswa ini, akan ditugaskan mendampingi IKM. Hal ini sebagai wujud pengabdian dan pengembangan IKM kedepannya, sehingga ilmu yang didapat tidak hanya berhenti di penerima beasiswa saja.

Semoga dengan program Making Indonesia 4.0 ini perekonomian Indonesia juga makin maju. Amin.