Mengenal Kuliner Peranakan Indonesia

Menelisik sejarah tentang kuliner peranakan Indonesia tak lepas dari masakan Chinese atau Tionghoa, Barat dan Melayu. Kuliner peranakan Indonesia adalah sebuah kekayaan budaya bangsa yang tak ternilai, namun sayang kini hampir sulit ditemukan, oleh karena itu harus dilestarikan agar bisa menjadi warisan budaya untuk anak cucu kita di masa mendatang.


Untuk lebih mengenal tentang kuliner peranakan Indonesia, Kompas.com kanal Travel mengadakan program khusus bagi pembaca setianya, bernama "Weekender."  Program ini memiliki konsep mengisi akhir pekan dengan hal bermanfaat dan menyenangkan. Acara ini rencananya rutin diadakan setiap bulan.

Acara perdana Weekender sendiri dilaksanakan pada pada Sabtu 19 Mei 2018, menghadirkan talkshow bertemakan kuliner, demo masak, sekaligus buka puasa bersama. Acara dilakukan di Restoran Kedai Sirih Merah yang berada di Jalan Taman Kebon Sirih 1 Nomor 5, Jakarta Pusat.


Talkshow bertema Kuliner Peranakan

Acara Weekender tersebut menghadirkan dua narasumber yaitu, Bapak Azmi Abubakar, pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa dan Mas Aji ‘Chen’ Bromokusumo yang tergabung dalam Kajian dan Pelestarian Budaya Aspertina (Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia).

Talkshow yang bertemakan kuliner tersebut mengupas sejarah, penyebaran, dan pengolahan kuliner peranakan di Betawi zaman lampau.

Pak Azmi Abubakar pada sesinya menunjukkan beberapa koleksi buku resepnya yang sudah berumur puluhan tahun dan menceritakan tentang resep kuliner Peranakan dan Betawi lawas yang hampir punah. Sangat disayangkan, banyak resep dari peranakan Tionghoa yang diwariskan turun-temurun dan tidak sempat di bukukan.

“Kuliner peranakan jika dijelajahi lebih lanjut, sangat dalam maknanya. Masakannya simpel, namun bermakna Bhinneka Tunggal Ika,” ucap Pak Azmi Abubakar.

Sesi ke dua yang diisi oleh Mas Aji ‘Chen’ Bromokusumo membahas tentang Mi beserta sejarahnya.

Saat ini mi menjadi makanan yang digemari oleh banyak masyarakat di Indonesia dan bisa dibilang menjadi makanan nasional.

“Sekarang mi bisa dibilang sudah menjadi ‘makanan nasional’ walaupun Indonesia bukan penghasil gandum. Bahkan yang namanya mi instan sudah jadi makanan pokok bayangan masyarakat Indonesia.  Banyak pula orang yang menyantap nasi dengan lauk mi instan," papar Mas Aji.

Lalu dari manakah mi berasal?

Mas Aji menjelaskan bahwa mi berasal dari negara China. Catatan paling awal soal mi ditemukan dalam buku dari masa Eastern Han Dynasty di antara tahun 25 – 220 Masehi.

Kata “mi" berasal dari dialek Hokkian dari kata “mian” (baca: myen). Sementara kata noodle diberasal dari Bahasa Jerman yakni nudel. Kemungkinan lainya juga berasal dari akar kata nodus (knot = simpul) yang berasal dari bahasa Latin.

Menurut Mas Aji, mi sendiri didefinisikan sebagai adonan tipis dan panjang, digulung dan dimasak dalam cairan mendidih yang menjadi media memasak mi. Cairan bisa berupa air biasa, kuah, hingga minyak.

Mi terdiri atas beberapa jenis tergantung bahan bakunya, yaitu millet, wheat atau gandum, beras, mung bean, kentang (potato) atau canna starch dan buckwheat.

Setelah mendapatkan materi tentang resep dan sejarah mi, peserta juga diajak menyaksikan demo masak Misoa Teng oleh koki Kedai Sirih Merah.

Misoa Teng adalah salah satu resep dari buku “Boekoe Masakan Betawi, Tionghoa, Ollanda, Djawa, dan Melajoe” terbitan tahun 1915. Mi ini biasanya disajikan pada acara istimewa seperti Imlek.

Setelah demo masak acara dilanjutkan dengan buka puasa bersama sambil mencicipi aneka masakan Kedai Sirih Merah.


O, iya program "Weekender" tak hanya membahas tentang talkshow kuliner, tapi juga akan mengadakan berbagai acara seru lain, seperti tur, wisata petualangan, dan kontes dengan tema yang menarik seputar bidang pariwisata.

Video singkat dari Kompas.com saat acara Weekender.
https://youtu.be/hwyApQhOpbU

Acaranya seru dan bermanfaat, semoga bisa ikutan lagi di program Weekender lainnya. Alhamdulillah banget, setelah selesai acara dapet buku berisi kumpulan resep masakan peranakan Indonesia karya Mas Aji.