Temukan Dan Obati TB Sampai Sembuh

Mengalami atau mengidap sebuah penyakit berat bukanlah pilihan kita. Tapi terkadang hidup tak bisa memilih. Begitupun dengan penyakit TB, dia bisa singgah dan menyerang siapa saja meskipun kita merasa sudah hidup sehat. Yuk, temukan dan obati penyakit TB agar penularannya bisa dicegah dan sisakit bisa sembuh.


Pasti bingung dan muncul pertanyaan "ko bisa sih kena TB?" lalu setelah itu akan timbul rasa malu dan minder yang berakhir dengan rasa frustrasi. Bagaimana tidak, TB merupakan salah satu momok yang menakutkan dan memalukan. Terlebih masyarakat kita sering memberi sangsi kejam dengan mengucilkan para penderitanya.

Saya termasuk orang yang awam dengan penyakit tersebut yang saya tahu bahwa penyakit itu menular dan mematikan. Bersyukur banget pada tanggal 19 Maret 2018 kemarin bisa hadir dalam acara Lokakarya Blogger dengan tema "Peduli Tuberkulosis, Indonesia Sehat", yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan. Acara ini diadakan dalam rangkaian menyambut Hari TB Sedunia yang jatuh pada tanggal 24 Maret mendatang, dengan menghadirkan dua pembicara, yaitu Dr. Anung Sugihantono, M. Kes dan Pandu Riono dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

.
Apa itu TB?
TB atau Tuberkulosis yang dulu dikenal dengan TBC adalah salah satu penyakit yang menular langsung melalui udara tanpa harus melewati kontak fisik, penyakit tersebut disebabkan oleh kuman Mycobaterium Tuberculosis.

Penemuan kasus TBC dari tahun 1999-2017, sangat banyak dan telah diobati, dan terjadi peningkatan drastis sejak tahun 2016.

"TB adalah sesuatu yang bisa diobati, hanya lumayan lama 6-8 bulan" ucap Dr. Anung Sugihantono, M. Kes

Menurut survei 1 orang dengan TB aktif dapat menginfeksi 10-15 orang pertahunnya dan 1 dari 10 orang yang terinfeksi TB menjadi aktif selama hidupnya.

TB merupakan penyakit menyebabkan kematian di dunia dan setengahnya terdapat di Asia Tenggara. Diperkirakan, setiap tahunnya 500.000 orang di kawasan ini meninggal dunia akibat penyakit tersebut. Dan mirisnya negara kita menduduki peringkat ke 2 dengan penyakit TB terbanyak setelah China.

Data mencatat kejadian TBC pertahun di Indonesia sebanyak 1.020.000 kasus dengan angka kejadian TBC 391 per 100.000 penduduk. TB atau Tuberkulosis sebagian besar kumannya menyerang paru namun kuman ini bisa juga menyerang bagian tubuh lainya seperti kelenjar getah bening, mata, tulang sendi, ginjal, kulit, usus, dan lain sebagainya. TB di luar paru di sebut juga TB Ekstra Paru. Namun yang paling sering di temukan adalah TB Paru.

Penularan TB
Bakteri TB menular melalui udara  kepada orang lain di sekitarnya tanpa harus melalui kontak fisik.

Dengan hanya bicara penderita TB bisa mengeluarkan 0-210 partikel bakteri. Batuk mengeluarkan 0-350 partikel bakteri dan jika bersin mengeluarkan 4500-1 juta partikel. Jadi jelaskan mengapa TB begitu mudah menular?


Perlu diketahui jika kita batuk harus memerhatikan etika seperti berikut:
1. Gunakan masker.
2. Tutup hidung dan mulut dengan lengan.
3. Tutup hidung dan mulut dengan tisu.

Di sinilah perlunya kesadaran dan
etika para penderita ketika entah itu berbicara, batuk maupun bersin. Pengunaan masker atau sapu tangan bisa dilakukan agar partikel tersebut tidak menyebar dan menularkan kepada orang lain.

Kuman TB tahan berada di daerah yang lembab. Namun bila berterbangan di udara bebas dan kena sinar matahari kuman akan mati. Maka ventilasi dan sirkulasi udara harus diperhatikan, sebisa mungkin sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah.


Pak Pandu menghimbau semua elemen masyarakat, tenaga kesehatan wajib lapor jika ada penderita atau orang bergejala TB. Karena jika tak ada data penderita, maka pemerintah sepeti burung yg terbang tanpa tujuan, meraba raba persebaran kasus TB.

Gejala TB
Batuk selama 2-3 minggu merupakan gejala utama TB Paru. Namun ada beberapa gejala lain yang menyertainya seperti :
– Batuk berdahak.
– Sesak dan nyeri dada saat mengambil nafas.
– Batuk darah.
– Nafsu makan menurun.
– Berkeringat di malam hari tanpa melakukan aktivitas.
– Berat badan menurun.
– Demam yang berkepanjangan.

Menurut survei 5-10% orang yang sudah terinfeksi TB akan beresiko menjadi TB aktif dengan beberapa faktor, seperti lama waktu sejak terinfeksi, seberapa banyak jumlah kuman yang terhitung dan seseorang yang memiliki daya tahan tubuh rendah seperti ODHA, penyandang diabetes melitus, penderita gizi buruk, orang yang sering berhubungan dengan penderita TB dan seseorang yang tidak menjalankan pola hidup sehat seperti berolah raga.

Untuk menentukan diagnosis di perlukan pemeriksaan dada, dahak seperti dengan cara :
– Rontgen atau sinar X pada dada
– Diagnosis Mikrobiologi
– Tes Mantoux

TB bisa menyerang siapa saja dari anak-anak hingga lansia terutama usia produktif (15-50 tahun). TB akan menyebabkan kematian apabila tidak dilakukan pengobatan.


Kita sendiri harus aware terhadap diri kita ataupun terhadap orang di sekitar kita. Jika melihat gejala atau ciri-ciri menderita TB, cepat ke dokter atau puskesmas untuk pemeriksaan diri.

Hal lain yang bisa kita lakukan adalah penemuan dini orang terduga TB, obati dan sosialisasikan cara pengobatan yang baik dan benar. Menangani TB harus melibatkan seluruh pihak dan melalui standard internasional.

Selama ini strategi yang dipakai untuk penanggulangan TB dikenal dengan DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) yang terdiri dari 5 komponen yaitu
– Komitmen politis
– Pemeriksaan dahak
– Pengobatan jangka pendek
– Menjamin ketersediaan obat (OAT)
– Dan adanya pencatatan dan laporan terhadap program secara menyeluruh.

Tanpa pengobatan yang signifikan, TB akan mengakibatkan kematian dalam lima tahun pertama pada lebih dari setengah kasus. Sangat disayangkan bila kematian karena TB masih terjadi di negara kita, karena sebenarnya pemerintah telah berusaha untuk memerangi TB dengan menyediakan pengobatan gratis di puskesmas-puskesmas kelurahan dan kecamatan.

Obat TB yang diberikan gratis itu sebagian besar dalam bentuk tablet kombinasi atau paket fix dose combination (FDC) yang berisi kombinasi obat INH, Rimfapisin, Pirazinamid, Entambutol.

Penderita TB positif diharuskan meminum obat-obatan selamma 6-8 bulan. TB sendiri memiliki 3 tipe, TB Sensitive, TB MDR ( Multi Drugs Resistant Tuberculosis) dan XDR (Extensively Drug Resistant Tuberculosis).

Pengobatan TBC sensitif obat terbagi dalam 2 tahap: tahap awal (setiap 2-3 bulan) dan tahap lanjutan (3 kali seminggu selama 4-5 bulan). Untuk tingkatan TB sendiri Ada TB SO atau sensitif obat, perlu treatment 6 bulan untuk sembuh. Kemudian Ada TB SORO (sensitif obat Dan resisten obat) atau IMBR, perlu waktu 2 tahun untuk sembuh.

Pada umumnya 90%TB Sensitive bisa disembuhkan dengan meminum obat selama 6 bulan setiap harinya secara terus menerus dan 10% yang mengalami kegagalan bisanya disebabkan umur penderita TB yang sudah tua.

Bagaimana kalau meminumnya tidak rutin? Dikhawatirkan bakteri akan resisten terhadap obat sehingga TB Sensitive bisa naik level menjadi TB MDR (Multi Drug Resistant Tuberculosis) dan XDR (Extensively Drug Resistant Tuberculosis).
TB MDR 50% bisa disembuhkan dan TB XDR akan semakin susah disembuhkan. Apabila TB Sensitive  menjadi TB MDR maka pengobatan selain selama 8 bulan mengkonsumsi obat-obatan juga harus diinjeksi selama 2 bulan setiap harinya.

Di sinilah kunci kesembuhan yaitu mau mengkonsumsi obat selama 6 bulan setiap hari dan kemauan untuk sembuh. Untuk memastikan kesembuhan TB nantinya akan ada pemeriksaan dahak penderita pada awal pengobatan, sebulan sebelum berakhir pengobatan dan pada akhir pengobatan. Setelahnya barulah bisa dipastikan apakah penderita TB sudah sembuh.

Pencegahan TB
Penyakit TB adalah masalah bersama, setiap orang harus peduli dengan penyakit ini, karena siapa saja bisa terkena TB. Beberapa hal yang bisa dilakukan:
– Jika batuk, bersin maka tutuplah mulut.
– Tidak meludah sembarangan, buang dahak kedalam saluran pembuangan jangan dikeramaian.
– Usahakan rumah memiliki ventilasi yang baik.
– Cuci tangan dengan sabun.
– Dan bagi yang sehat maka wajib menjaga stamina tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi.

TB tidak dapat disembuhkan hanya dengan pengobatan medis, tapi juga membutuhkan dukungan sosial dari keluarga dan masyarakat sekitar dalam menjaga kesehatan bersama.


Bagi penderita TB, sangat berat untuk menjalani hidup selain tersiksa harus minum obat setiap hari yang bisa mencapai 13 butir/hari yang tak jarang menimbulkan efek yang cukup tidak enak seperti mual, para penderita TB juga mengalami sanksi sosial dari lingkungan. Penderita membutuhkan sebuah support dan informasi tentang penyakitnya ini.

Menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat diantaranya dengan:
1. Menjemur alat tidur.
2. Membuka jendela dan pintu setiap pagi agar udara dan sinar matahari masuk
3. Mengkonsumsi makanan bergizi,
4. Tidak merokok dan minum minuman keras.
5. Olahraga secara teratur.

Penularan TB berdasarkan survey dengan rasio 6 lelaki : 4 perempuan. Keluarga terdekat penderita TB sangat rentan tertular.