Menelisik Glodok Saat Cap Go Meh

Hari ini, Minggu 4 Maret 2018 merupakan kali ke dua diawal tahun anjing ini saya menginjakkan kaki di kawasan Glodok, setelah hari raya Imlek tanggal 16 Februari 2018 kemaren. Kedatangan saya kali ini masih sama, hunting alias berburu momen untuk diabadikan dalam foto. Saya bukan fotografer sih, tapi suka aja mumpung lagi senggang juga. Dari rumah saya berangkat jam 11.00 dengan menggunakan kereta, lalu nyambung busway dan turun di halte Glodok.


Sampai di kawasan Glodok sekitar pukul 13.00 dan jalanan sudah penuh sesak oleh ratusan orang. Mereka datang dari berbagai tempat di Jakarta dan tujuannya sama, ingin menyaksikan festival Cap Go Meh. Saya yang datang sendirian merasa terhibur karena bisa ketemu beberapa teman yang juga hunting foto.

Cap Go Meh (Hokkien) memiliki arti penutup Tahun Baru Imlek yang dirayakan oleh warga Tionghoa di seluruh dunia 15 hari setelah Imlek.


Festival Cap Go Meh di Jakarta digelar selama dua hari yaitu Sabtu (3/3/2018) dan Minggu(4/3/2018). Puncak acara digelar pada hari Minggu dengan menampilkan arak-arakan atau karnaval di sepanjang jalan Pancoran, Gajah Mada hingga jalan Hayam Wuruk dan berpusat di depan LTC Glodok. Menurut kabar karnaval akan berlangsung pukul 13.00 -18.00 WIB. Jalanan akan ditutup untuk kendaraan, yang bisa lewat hanya bis Transjakarta.


Menurut petugas yang sempat saya ajak ngobrol, karnaval Cap Go Meh kali ini dimeriahkan sedikitnya oleh 2.000 peserta yang berasal dari beragam latar belakang komunitas, profesi, suku, adat, dan agama. Pihak keamanan menurunkan tak kurang dari 700 personil gabungan untuk mengamankan acara ini.

Sebenarnya pengen ke sini dari kemaren, tapi karena hujan akhirnya cuma bisa hari ini. Udara dan matahari terasa lebih terik dari biasanya, tapi tak sedikit pun menyurutkan niat saya dan minat warga yang sengaja datang. Mereka antusias berdiri sepanjang jalan yang akan dilewati oleh karnaval, bahkan jembatan penyeberangan pun penuh sesak.


Pesan Menko Puan Maharani.

Sejumlah pejabat negara terlihat turut hadir guna memeriahkan karnaval tersebut. Diantaranya, Menko PMK Puan Maharani, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua DPR Bambang Soesatyo, Ketua DPD Oesman Sapta Odang, Menkominfo Rudiantara dan Bapak Agum Gumelar.

Pukul 14.00 acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia raya dan perentangan Bendera Merah Putih oleh Paskibraka. Lalu diteruskan dengan ucapan selamat tahun baru Imlek dari para pejabat yang hadir. Dan ada beberapa mengucapkannya dengan bahasa Mandarin. Lucu juga sih.


Dalam kesempatan itu Puan Maharani berpesan agar seluruh rakyat Indonesia tetap menjaga keutuhan NKRI, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika.

"Kita ini satu saudara, satu bangsa, satu Tanah Air, satu Indonesia, satu merah putih," ucap Puan.

Putri Megawati Soekarnoputri ini juga berpesan agar masyarakat yang ikut memeriahkan Cap Go Meh tetap menjaga keamanan, ketertiban, dan kebersihan bersama.

"Kita buktikan gotong royong, satu Indonesia," serunya.


Sementara bapak Zulkifli Hasan menyatakan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang berwarna-warni, beragam suku dan budaya. Meski berbeda, namun bangsa Indonesia sepakat untuk saling memahami.

"Indonesia adalah bangsa yang toleran, bukan intoleran. Yang ingin mengadu kita, mengoyak kita, mari katakan tidak. Kita lawan mereka," ujar pak Zulkifli.

Ketua Dewan Pembina Panitia Cap Go Meh Glodok 2018 Charles Honoris mengatakan, "Ini perayaan Cap Go Meh ke dua yang dilaksanakan di tempat ini. Kita akan menampilkan barongsai dan arak-arakan Joli yang menjadi ciri khas Cap Go Meh. Selain itu, ada tarian Gemu Famire, sisingaan, reog Ponorogo, parade mobil hias, dan marching band dari Remaja Masjid Istiqlal."


Yang tak kalah antusias adalah pak Rudiantara, sejak naik panggung beliau sibuk live dengan handphonenya.

Acara karnaval ini dibuka dengan ditandai pemukulan bedug yang dilakukan oleh bu Menteri Puan, didampingi pak Zulkiflidan semua pejabat yang hadir. Lalu iring-iringan Barongsai, Korps Polisi Berkuda (Datasemen Turangga) melewati podium. Para pejabat yang hadir pun mengikuti iring-iringan pawai Cap Go Meh dengan menaiki mobil hias.


Perayaan Cap Go Meh tahun ke dua di kawasan pecinan Glodok ini mempunyai makna tersendiri bagi warga Tionghoa. Mungkin karena Cap Go Meh baru dirayakan kembali setelah sempat berhenti selama 54 tahun. Terakhir kali digelar di masa pemerintahan Presiden Sukarno pada 1962 lalu. Dan kembali diperbolehkan saat pemerintahan Gus Dur.

Para pengisi acara dalam karnaval Cap Go Meh 2018, antara lain:

1. Pasukan Brigade Motor POM TNI
2. Korps Polisi Berkuda (Datasemen Turangga)
3. Marching Band Remaja Masjid Istiqlal
4. Paskibraka + Bendera Merah Putih
5. Komunitas Sepeda Onthel
6. Barongsai + Liong
7. Tari Kabasaran Bapontar
8. Joli
9. Reog Ponorogo
10. Mobil hias 1 (tema Cap Go Meh)
11. Tari Papua
12. Gemufamire
13. Tatung
14. Tim Kesenian Betawi : Palang Pintu, Ondel-Ondel dan Tanjidor
15. Mobil Hias 2 (Tema Jakarta + Abang None Jakarta)
16. Gondang Batak + mobil
17. Mobil hias 3 (Koko Cici Jakarta)
18. Sisingaan
19. Engrang
20. Marching Band dan masih banyak lagi.


Sejumlah pedagang kaki lima tak menyia-nyaiakan kesempatan ini, mereka tampak menjajakan berbagai pernak-pernik khas Cap Go Meh seperti topeng dan miniatur barongsai.

Bahkan jalan Pancoran ditutup untuk digunakan tempat bazar makanan dan lain-lain. Sebuah panggung pertunjukkan masih berdiri di dekat Jalan Toko Tiga dan sore menjelang malam kembali menyuguhkan pentas musik. Warga sekitar pun terlihat antusias dan menikmati rangkaian acara Cap Go Meh tahun ini.


Asal Muasal Cap Go Meh.

Banyak versi yang menyebutkan asal muasal perayaan Cap Go Meh. Salah satu versi menyebutkan Dinasti Zhou (770-256 SM) lah yang mengawali perayaan Cap Go Meh setiap tanggal 15 malam bulan satu Imlek.

Kala itu, para petani memasang lampion-lampion yang dinamakan Chau Tian Can di sekeliling ladang untuk mengusir hama dan menakuti binatang yang suka merusak tanaman. Lampion-lampion itu juga dimaksudkan untuk menciptakan pemandangan dan nuansa yang indah di malam hari tanggal 15 bulan satu tahun baru Imlek berdasarkan penanggalan Tiongkok tersebut.


Untuk menakuti atau mengusir binatang-binatang perusak tanaman, mereka menambah segala bunyi-bunyian serta bermain barongsai. Terutama agar lebih ramai dan bermanfaat bagi petani.

Selama puluhan abad, kepercayaan dan tradisi budaya ini berlanjut turun-menurun, baik di daratan Tiongkok maupun di perantauan etnis Tionghoa di seluruh dunia. Sementara di negara-negara Barat, Cap go meh dianggap sebagai pesta karnaval etnis Tionghoa.

Sejarah Cap Go Meh di Nusantara (nama lama Indonesia) dimulai pada abad XIV. Saat itu terjadi migrasi besar dari daratan Tiongkok Selatan. Berdagang menjadi alasan mereka singgah di Nusantara. Mereka pun mulai menetap dan menjadi warga Nusantara. Tradisi Tionghoa mulai dikenal, Imlek dan puncak rangkaian salah satunya adalah Cap Go Meh.


Pawai merayakan Cap Go Meh pada umumnya dimulai dari kelenteng ataupun vihara. Kelenteng adalah penyebutan secara keseluruhan untuk tempat ibadah Tri Dharma, atau Buddha, Tao, dan Konghucu, di Indonesia. Nama kelenteng bukan berasal dari Tiongkok, melainkan bahasa Jawa. Diambil dari perkataan "kelintingan" lonceng kecil, karena bunyi-bunyian inilah yang sering keluar dari kelenteng, sehingga mereka menamakannya kelenteng.

Etnis Tionghoa sendiri menamakan kelenteng itu sebagai Bio. Bahasa Mandarin-nya Wen Miao adalah bio untuk menghormati Confucius dan Wu Miao adalah untuk menghormati Guan Gong. Cap Go Meh juga dikenal sebagai acara pawai menggotong joli Toapekong untuk diarak keluar dari kelenteng. Toapekong (Hakka = Taipakkung, Mandarin = Dabogong) berarti secara harfiah eyang buyut untuk makna kiasan bagi dewa yang pada umumnya merupakan seorang kakek yang sudah tua.


Da Bo Gong adalah sebutan untuk para leluhur yang merantau atau para pioner dalam mengembangkan komunitas Tionghoa di Indonesia. Namun istilah Da Bo Gong itu sendiri tidak dikenal di Tiongkok.

Menyaksikan lampion dan makan onde-onde adalah dua bagian penting pada saat perayaan Cap Go Meh. Selain itu, ada beberapa adat istiadat lainnya yang merupakan rangkaian acara yang tidak terpisahkan dari zaman Tiongkok kuno, yakni:

1. Pawai menggotong joli Toapekong untuk diarak keluar dari kelenteng.
2. Lontong opor lengkap atau disebut lontong Cap Go Meh.
3. Pawai Cap Go Meh.
4. Tarian barongsay atau tarian singa atau disebut pula Nong Shi.
5. Tarian Naga atau liong atau disebut Nong Long.
6. Lampion berwarna merah.
7. Kue onde-onde.
8. Kegiatan hiburan lainnya, seperti jangkungan, tari yangge atau semacam tarian khas di utara Tiongkok.


Perayaan Cap Go Meh di Indonesia mengambil tema akulturasi budaya dan Bhinneka Tunggal Ika. Festival Cap Go Meh tidak hanya di gelar di Jakarta, namun digelar di berbagai wilayah di Tanah Air seperti Bogor, Singkawang, Semarang dan tempat lainnya.

Menurut pandangan aku, maraknya festival Cap Go Meh bisa turut mendorong sektor pariwisata dan perekonomian di Indonesia. (Maaf kalo yang ini sok tahu, hanya opini sebagai pengamat amatiran). Hehehe.


*Sejarah Cap Go Meh dikutip dari berbagai sumber.