Pentingnya Peran Ibu Dalam Masa 1000 HPK

Semua ibu ingin memiliki anak yang sehat dan cerdas, namun ternyata dalam mewujudkan keinginan tersebut masih banyak ibu-ibu yang salah dalam merawat dan memenuhi gizi anak.


Beruntunglah saya bisa hadir dalam acara Talkshow Kesehatan yang diselenggarakan oleh Nutrisi Untuk Bangsa yang mengangkat tema "Menyediakan Gizi Terbaik dalam Periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)" yang menghadirkan tiga narasumber yaitu, Prof. Endang L. Achadi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI), Dr.Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK dan DR. Dr.Yusna Anie Indriastu, M.Sc.,Sp.GK Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI). Dari acara ini saya banyak tahu tentang pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK).


Untuk mencetak generasi sehat dan cerdas, langkah awal terpenting yang harus dilakukan adalah pemenuhan gizi sejak dini, bahkan saat anak masih di dalam kandungan. Masa ini dikenal dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan atau 1000 HPK, yang dimulai sejak dari fase kehamilan (270 hari) hingga anak berusia 2 tahun (730 hari).

Seribu hari pertama kehidupan tersebut penting karena bisa menentukan kesehatan dan kecerdasan seseorang. Makanan selama kehamilan pun dapat mempengaruhi fungsi memori, konsentrasi, pengambilan keputusan, intelektual, mood, dan emosi seorang anak di kemudian hari.


"Delapan minggu pertama setelah masa pembuahan adalah masa yang sangat kritis, karena saat itu cikal bakal organ-organ tubuh terbentuk. Setelat itu baru cikal bakal organ tubuh lainnya seperti otak, jantung, paru-paru, ginjal dan tulang terus tumbuh berkembang menjadi organ sempurna pada akhir kehamilan," jelas Prof. Endang.

Setelah lahir anak juga tetap harus diperhatikan kebutuhan gizinya karena sebagian organnya masih terus berkembang hingga usia 2 tahun. Perkembangan fungsi melihat, mendengar, berbahasa, dan fungsi kognitif juga mencapai puncaknya pada usia 0-2 tahun.

Status gizi seorang wanita sebelum hamil sangat menentukan awal perkembangan plasenta dan embrio. Berat badan ibu pada saat pembuahan, baik menjadi kurus atau menjadi gemuk akan berdampak pada kesehatan anak dikemudian hari. Selama fase kehamilan kebutuhan gizi akan terus meningkat, khususnya energi, protein, serta beberapa vitamin dan mineral sehingga ibu harus memperhatikan kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsinya.

Janin akan menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi pada ibunya, termasuk asupan gizi selama mengandung. Jika nutrisinya kurang, bayi akan mengurangi sel-sel perkembangan tubuhnya. Oleh karena itu, pemenuhan gizi pada anak di 1000 Hari Pertama Kehidupan menjadi sangat penting, sebab jika tidak dipenuhi asupan nutrisinya, maka akan berdampak pada perkembangan anak, dan sifat permanen.

Dampak permanen inilah yang menimbulkan masalah jangka panjang. Anak yang mengalami kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan, mempunyai tiga resiko, diantaranya:

1. Resiko memiliki penyakit tidak menular/ kronis, tergantung organ yang terkena. Bila ginjal, maka akan menderita gangguan ginjal, bila pankreas maka akan beresiko penyakit diabetes tipe 2, bila jantung akan beresiko menderita penyakit jantung.

2. Bila otak yang kena maka akan mengalami hambatan pertumbuhan kognitif, sehingga kurang cerdas dan kompetitif.

3. Gangguan pertumbuhan tinggi badan, sehingga beresiko pendek atau stunting.


Stunting adalah di mana anak memiliki postur tubuh lebih pendek dari standar usianya. Hal ini terjadi karena adanya gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan organ tubuh akibat kurangnya suplai gizi dari ibu saat hamil sampai usia 2 tahun. Anak di katakan stunting atau tidak, dapat diketahui sesaat setelah lahir dengan mengukur panjangnya. Bila panjang lahirnya kurang dari 48cm maka bisa dikategorikan stunting.

Dampak kekurangan gizi ternyata tidak hanya bersifat antar-generasi (dari ibu ke anak) tetapi bersifat trans-generasi (dari nenek ke cucunya). Sehingga diperkirakan dampaknya mempunyai kurun waktu 100 tahun, artinya resiko tersebut berasal dari masalah yang terjadi sekitar 100 tahun yang lalu, dan dampaknya akan berkelanjutan pada 100 tahun berikutnya.

Pemenuhan gizi yang optimal selama periode 1000 HPK, selain memberi kesempatan bagi anak untuk hidup lebih sehat dan lebih produktif, juga bisa menghindarkan anak dari penyakit degeneratif.

Pertumbuhan anak pada periode emas berlangsung secara cepat, yaitu selama tahun pertama dan kedua usia anak. Sayangnya kasus-kasus kekurangan gizi atau penurunan status gizi justru terjadi pada periode ini.


Hal yang bisa dilakukan selama 1000 HPK yaitu:

1. Persiapkan diri untuk menyambut kehamilan.
2. Selama hamil, makan makanan beraneka ragam.
3. Memeriksa kehamilan, min 4 x selama kehamilan.
4. Minum tablet tambah darah.
5. Lakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) pada bayi saat baru lahir.
6. Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan.
7. Timbang berat badan bayi secara rutin setiap bulan.
8. Berikan imunisasi dasar wajib pada bayi.
9. Lanjutkan pemberian ASI hingga berusia 2 tahun.
10. Berikan MPASI secara bertahap pada bayi saat berusia 6 bulan, dan tetap memberikan ASI.

Pentingnya Zat Besi 

• Zat besi dibutuhkan bumil sebagai persiapan menghadapi persalinan, karena perdarahan yang saat bersalin.

• Zat besi dibutuhkan bumil untuk menjamin hantaran oksigen yang dibutuhkan sehingga metabolisme berjalan baik.

• Zat besi diperlukan oleh janin untuk pertumbuhannya dan sebagai persiapan cadangan zat besi saat ia lahir hingga berusia 6 bulan.

• Asam folat diperlukan untuk pertumbuhan otak dan neural tube janin untuk mencegah terjadinya kecacatan.

Zat besi juga sangat dibutuhkan saat pertumbuhan dan perkembangan syaraf  janin. Kebutuhan zat besi selama kehamilan meningkat menjadi 27 mg/hari khususnya pada kehamilan trimester kedua dan ketiga. Kekurangan zat besi pada ibu hamil bisa mengakibatkan anemia. Pemenuhan zat besi selama kehamilan dapat diperoleh dari cadangan besi, tetapi jika cadangan ini sedikit maka diperlukan pemberian tablet tambah darah. Untuk mendeteksi terjadinya anemia, maka sejak dini ibu hamil harus melakukan tes kadar hemoglobin.

Dampak yang ditimbulkan akibat anemia saat kehamilan adalah perdarahan pasca melahirkan dan berat bayi lahir rendah. Anemia yang terjadi pada ibu hamil akan berpengaruh pada fungsi imunitas tubuh. Infeksi pada ibu hamil akan meningkatkan risiko terjadinya kelahiran bayi prematur.

Pemberian imunisasi tetanus toksoid kepada ibu hamil juga wajib dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit tetanus pada bayi. Pemeriksaan kehamilan harus dilakukan secara teratur sejak awal kehamilan.

Pengertian Tentang Gizi Seimbang.

Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai denga kebutuhan tubuh dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman makanan, akvitas fisik, perilaku hidup bersih dan mempertahankan berat badan normal untuk mencegah gizi kurang dan gizi lebih. (Kemenkes RI, 2014).

Kebutuhan gizi selama hamil 2x lebih banyak dibandingkan dengan saat tidak hamil. Kebutuhan protein, asam folat, kalsium dan zat besi ibu hamil meningkat. Porsi makan untuk ibu hamil harus lebih banyak dengan kualitas makanan yang baik dibandingkan dengan saat sebelum hamil. Jika ibu hamil mengalami mual, muntah serta tidak nafsu makan sebaiknya mengonsumsi makanan yang tidak mengandung lemak dan menyegarkan.


Zat gizi yang dibutuhkan ibu hamil meliputi karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan protein. Karbohidrat dan lemak bertindak sebagai sumber tenaga, yang dapat diperoleh dari serealia, umbi-umbian. Vitamin B kompleks berguna untuk melindungi sistem saraf, otot serta jantung. Sumber vitamin B kompleks ada pada serealia, biji-bijian, kacang-kacangan, sayuran hijau, telur serta produk susu. Protein sebagai sumber zat pembangun terdapat pada daging, ikan, telur, dan kacang-kacangan.

Kalsium diperlukan untuk pertumbuhan tulang serta gigi janin dan membuat perlindungan ibu hamil dari osteoporosis. Jika keperluan kalsium ibu hamil tidak tercukupi maka kekurangan kalsium dapat diambil dari tulang ibu. Asam folat berperan untuk perubahan sistem saraf dan sel darah, yang banyak ada pada sayuran berwarna hijau gelap.

Pemberian ASI Eksklusif

Inisiasi Menyusui Dini (IMD) harus segera diberikan pada bayi yang baru lahir. Pada prinsipnya inisiasi menyusui dini merupakan kontak langsung antara kulit ibu dan kulit bayi. Inisiasi menyusui dini mempunyai beberapa manfaat di antaranya adalah mendekatkan kasih sayang antara ibu dan bayi, menurunkan risiko perdarahan, menstimulasi hormon oksitosin yang dapat membuat rahim berkontraksi dalam proses pengecilan rahim kembali ke ukuran semula.

Selain IMD, bayi baru lahir juga harus mendapatkan kolostrum. Kolostrum adalah cairan kental berwarna kekuningan yang dikeluarkan oleh kelenjar payudara setelah melahirkan. Kolostrum mempunyai kandungan energi lebih rendah, protein lebih tinggi serta karbohidrat dan lemak yang lebih rendah daripada air susu ibu yang diproduksi selanjutnya. Kolostrum mengandung beberapa zat antibodi, di antaranya adalah faktor bifidus yaitu faktor spesifik yang dapat memacu pertumbuhan Lactobacillus bifidus, bakteri yang dianggap dapat mengganggu kolonisasi bakteri patogen di dalam saluran cerna. Kolostrum sangat baik untuk membentuk sistem imun bayi.

ASI is the best, karena mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan susu formula, yaitu ASI mengandung kolostrum untuk meningkatkan imunitas tubuh bayi, ASI mudah dicerna dan mengandung zat gizi yang berkualitas, ASI mengandung zat anti infeksi, bersih, dan bebas kontaminasi, mendekatkan hubungan kasih sayang ibu dan bayi, meningkatkan kecerdasan anak, praktis, dan murah.

Makanan Pendamping ASI

Periode usia 7—24 bulan terdiri dari beberapa kegiatan di antaranya adalah pemberian ASI sampai usia dua tahun, Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), imunisasi, dan suplementasi vitamin A.

Makanan pendamping ASI merupakan makanan yang diberikan kepada bayi selain ASI. MPASI diberikan kepada bayi karena kebutuhan gizi bayi terus meningkat dan ASI saja sudah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi tersebut.
Pemberian makan pada anak sebaiknya disesuaikan dengan tahap perkembangannya. Pada saat bayi berumur 6 atau 7 bulan bayi baru belajar mengunyah dan siap untuk mengonsumsi makanan padat.

Zat gizi yang harus terkandung dalam MPASI adalah karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Kebutuhan protein dan zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral diperlukan dalam jumlah tinggi karena pada masa ini merupakan masa pertumbuhan dan dengan laju metabolisme tinggi. Kandungan lemak pada MPASI anak diperlukan sebagai sumber asam lemak esensial, yang memfasilitasi penyerapan vitamin larut lemak. Kebutuhan lemak bagi anak dalam makanan pendamping ASI berkisar antara 30%-45% kebutuhan energi.


Berbicara mengenai gizi ibu hamil dan ibu menyusui memang kompleks, tapi tidak sulit. Ibu hamil dan menyusui membutuhkan energi lebih banyak sehingga perlu tambahan energi 180 – 400 Kkal serta 20 gram extra protein perhari untuk pertumbuhan dan perkembangan janin dan bayinya.

"Jadi, kalau ada yang masih pantang makanan itu adalah salah besar," jelas Dr.Tirta Prawitasari, MSc, SpGK

DR. Dr.Yusna Anie Indriastu, M.Sc.,Sp.GK menyarankan, saat memberikan MPASI tidak terpaku pada jenis makanan yang itu itu saja. Jadi prinsipnya makanan yang disajikan harus memenuhi setidaknya 4 jenis bahan makanan mengandung karbohidrat, protein, sayuran dan lemak tambahan dari 7 jenis yang harus ada. MPASI ini disebut dengan "MPASI 4 Bintang."


Pemberian rasa pada MPASI juga penting untuk merangsang selera makan bayi dan pemenuhan gizi, karena sebenarnya sejak dalam kandungan bayi telah mengenal berbagai rasa dari makanan yang dikonsumsi oleh ibunya.