Menjelajahi Petak Sembilan Saat Imlek

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Vihara Dharma Bhakti yang berada di Kawasan Petak Sembilan Jakarta Barat menjadi salah satu pusat perayaan Tahun Baru Imlek di Jakarta, begitupun dengan perayaan Imlek tahun ini yang jatuh pada hari, Jumat 16 Februari 2018.


Umat Tridharma dan masyarakat Tionghoa di sekitarnya menyebut Vihara Dharma Bhakti dengan nama Kim Tek Le. Vihara ini merupakan klenteng tertua di Jakarta selain klenteng Ancol. Klenteng ini dibangun pertama kali pada tahun 1650 dengan nama Kwan Im Teng. Sempat terbakar pada tahun 2015 lalu, namun telah diperbaiki dan direnovasi di bagian dalamnya sehingga lebih luas.

Setiap perayaan Imlek, malamnya Vihara pun telah ramai oleh umat yang hendak beribadah. Biasanya  suka ada pertunjukan barongsai dan kembang api.

Bangunan Vihara yang identik dengan nuansa warna merah terlihat makin meriah oleh hiasan berornamen Imlek seperti lampion, lilin dan lain sebagainya. Begitu pun dengan warna pakaian yang dikenakan para jemaatnya.


Warna merah diyakini sebagai simbol kebahagiaan, kebaikan hati, kebenaran, ketulusan hati dan kemakmuran. Warna merah, emas dan kuning yang mendominasi menggambarkan pengharapan di tahun baru tersebut agar segala kesedihan dan kegelapan sirna digantikan dengan kebahagian.

Selain membakar dupa, memanjatkan doa serta ritual lainnya, umat yang beribadah juga terlihat saling mengucapkan Kung Hei dan bercengkrama satu sama lain.

Dan dari tahun ke tahun pula perayaan Imlek di Petak Sembilan selalu dipadati oleh para pengemis dadakan yang menunggu pembagian angpau atau derma. Mereka berkumpul di depan pintu masuk Vihara.


Para pengemis itu biasa datang dan sudah menjadi budaya sejak lama. Agar tidak terjadi keributan karena berebut angpao, pihak Vihara melarang umat yang berdoa untuk memberi langsung derma mereka kepada para pengemis. Angpao atau uang sumbangan umat bisa diserahkan kepada panitia untuk dibagikan secara merata. Vihara juga biasanya memberikan sembako atau angpao kepada warga sekitar sehingga banyak warga yang datang ke Vihara untuk mendapatkan peruntungan.

Di lokasi terlihat Petugas Pelayanan, Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) yang diturunkan oleh Dinas Sosial DKI Jakarta. Para petugas tersebut bekerja sama dengan aparat keamanan lainnya seperti Kepolisian, TNI, Satpol PP dan satuan pengamanan Vihara.

Para petugas ini ada guna memastikan para umat bisa melakukan ibadah dengan aman dan nyaman serta mencegah terjadinya sesuatu hal yg tidak diinginkan seperti berdesak-desakan yang bisa menyebabkan timbulnya korban atau menertibkan para pengejar angpao agar mereka tidak berebutan atau membuat kerusuhan.


Selain para pengemis, Vihara juga tampak penuhi oleh masyarakat umum dari berbagai golongan dan agama yang sengaja datang untuk berburu moments alis hunting foto. Begitupun dengan saya, ini adalah tahun ke dua saya menyambangi dan menyusuri beberapa gang di Petak Sembilan guna melihat-lihat kemeriahan dan hiruk pikuk masyarakat disekitar Vihara. Selalu banyak hal menarik di daerah ini, seperti dagangan yang ada di sepanjang jalan menuju Vihara.

Sedikitnya ada 10 Klenteng yang berada di wilayah Petak Sembilan, dan dua diantaranya berdiri bersisian dengan Vihara Dharma Bhakti di jalan Kemenangan III. Untuk sampai ke Vihara ini bisa naik bus Trans Jakarta arah Kota, turun di halte Glodok lalu masuklah ke Jalan Pancoran. Setelah itu beloklah ke arah kanan menuju Jalan Kemenangan.


Kemeriahan dan keriuhan Imlek tidak hanya ada di Vihara Darma Bakti, dan Vihara di sekitarnya, tapi juga di klenteng lain di Jakarta seperti Vihara Bio Hok Tek Tjeng Sin yang berada di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, hingga Vihara AvaloKitesvera Vipassana yang berlokasi di Graha Sunter Jaya, Jakarta Utara.

Mengenal asal usul Imlek.

Tahun Baru Imlek resmi menjadi hari libur nasional di Indonesia pada tahun 1999. Tahun Baru Imlek selalu dirayakan pada hari pertama kalender lunar Cina dan berakhir dengan Cap Go Meh, yaitu tanggal kelima belas, pada saat bulan purnama.

Di negara asalnya yaitu Cina, Imlek berkonotasi dengan datangnya musim semi yang patut dirayakan sebagai tanda syukur kepada Tuhan. Hal ini tidak bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik, karena perayaan ini intinya adalah ucapan syukur dan budaya.

Imlek yang dikenal sebagai Spring Festival di Cina memang telah menjadi salah satu dari lima festival yang paling banyak dirayakan di dunia. Festival ini diadakan antara bulan Januari sampai Februari, tergantung pada pergerakan bulan.

Spring Festival diyakini ada sejak Dinasti Shang (1600-1100 SM). Saat itu, orang memberikan persembahan kepada para dewa dan leluhur di penghujung musim dingin. Pada tahun 1914, ketika Cina sudah menjadi republik, perayaan ini ditetapkan sebagai hari libur nasional. Tahun 1967, Spring Festival sempat dilarang selama Revolusi Budaya.

Sejarah Imlek diambil dari berbagai sumber, publicholidays.co.id, jurnal.pasarpolis.com