#Savegenerasiemas2045 Dengan Menjadi Ibu Cerdas

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang hingga saat ini masih mengalami permasalahan gizi ganda pada anak-anak, yaitu kurang gizi yang menyebabkan pendek (stunting) dan gizi berlebih yang menyebabkan obesitas.

Data Riskesdas 2010 menunjukan prevalensi balita pendek (stunting) di Indonesia sebesar 35,6%  yang sekaligus mengakibatkan Indonesia menjadi negara ke-5 terbesar yang berkontribusi pada 90% stunting di dunia. Anak stunting beresiko lebih tinggi menderita penyakit diabetes, jantung, hipertensi, obesitas dan stroke pada usia dewasa.


Sementara, dari sisi gizi lebih, Indonesia mengalami peningkatan angka obesitas pada anak yang naik 3 kali lipat. Mereka berpotensi mengidap berbagai jenis penyakit setelah dewasa, antara lain diabetes, penyakit jantung dan kanker. Kajian Global Burden of Diseases yang dipublikasikan jurnal ilmiah, Lancet, pada 2014 menempatkan Indonesia di posisi 10 dalam daftar negara dengan tingkat obesitas tertinggi di dunia.

Dalam rangka mensukseskan target pemerintah, Generasi Emas 2045, peningkatan pengetahuan ibu tentang gizi anak perlu terus dilakukan. Hal ini tidak hanya menjadi kewajiban pemerintah namun juga memerlukan dukungan seluruh elemen masyarakat. Salah satu bahasan tentanng gizi yang sedang hangat diperbincangkan adalah tentang susu kental manis alias SKM yang membuat penasaran sekaligus dilema para ibu rumah tangga.

Bagaimana tidak, SKM yang sudah melekat dan sangat familiar di masyarakat sebagai susu, lalu tiba-tiba diberita bila SKM berbahaya untuk dikonsumsi oleh anak. Kemudian juga muncul pihak yang menyatakan bila SKM aman dikonsumsi. Sebagai masyarakat awam pasti binggung harus percaya yang mana.


Masyarakat mengenal SKM karena penyajiannya yang praktis, murah, mudah didapat dan awet. SKM bisa tahan dalam kemasan hingga satu tahun ketika belum dibuka karena komposisi setengahnya adalah gula atau sukrosa.

Menurut BPOM, SKM adalah produk susu berbentuk cairan kental yang dibuat dengan cara menguapkan sebagian air dari susu segar yang kemudian ditambah dengan gula sebanyak 45-50%. Namun sebuah produsen terkenal pernah mengatakan bila SKM diperoleh dari hasil sisa pembuatan susu bubuk yang dicampur gula hingga mencapai tingkat kepekatan tertentu, dan pada awalnya produsen membuat SKM bukan untuk dikomsumsi sebagai minuman susu, hanya sebagai bahan campuran tambahan makanan.


Produk ini pertama kali diproduksi di Amerika pada abad ke-18 dan karena sifatnya yang tahan lama pada saat itu banyak dipakai sebagai bekal tentara Amerika yang sedang terlibat perang saudara.

Di negara maju sebagian kecil masyarakatnya masih mengonsumsi SKM sebagai campuran dessert, minuman teh atau kopi tapi tidak digunakan sebagai minuman susu karena masyarakat sudah mengetahui bahwa SKM rendah gizi dan terlalu banyak mengandung gula. Sementara di Indonesia konsumsi SKM masih tinggi bahkan terus meningkat. (Kutipan dari tulisan  mbak Yaya yang di posting di Kompasiana www.kompasiana.com/fisrtyarikha).

SKM memang praktis dan murah murah dan awet, namun bukan berarti SKM aman untuk dikonsumsi oleh anak tiap hari sebagai minuman susu. Ada 3 alasan mengapa SKM berbahaya untuk anak,


1. Kandungan Gula yang tinggi

Kandungan gula dalam SKM lebih tinggi dibandingkan dengan jenis susu yang lain. Untuk satu takaran saji, sesuian yang tertulis pada kemasan SKM yaitu 4 sendok makan SKM dilarutkan dengan 150 mL air hangat, mengandung gula sekitar 20 gram atau setara dengan 2 sendok makan.

Padahal WHO menganjurkan asupan harian gula untuk anak usia 1-3 tahun maksimal 28 gram per hari atau setara dengan 3 sendok makan.  Sedangkan untuk anak usia 4-6 tahun maksimal 40 gram per hari atau setara dengan 4 sendok makan.  Bayangkan bila SKM yang di berikan minimal 2 kali sehari, berapa jumlah gula yang dikonsumsi oleh anak tersebut? Belum lagi dengan makanan lain seperti biskuit, permen dan lain-lain.

Mengkonsumsi gula yang tinggi bisa menyebabkan obesitas, diabetes serta penyakit kardiovaskuler seperti jantung dan stroke ketika dewasa nanti. Dan penyakit yang secara langsung bisa terlihat adalah karies pada gigi.

2. Rendahnya Kandungan Protein

Dalam satu takar saji SKM sebagai minuman susu, anak akan mendapatkan asupan protein hanya 3 gram saja. Sementara asupan protein yang dibutuhkan anak usia 1-3 tahun dan 4-6 tahun sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 75 Tahun 2013 tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan bagi bangsa Indonesia adalah 26 g/hari dan 35 g/hari. Artinya jumlah protein yang didapatkan dari segelas SKM sangat sedikit. Padahal para ibu memberikan susu kepada anaknya dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan protein pada anaknya bukan?


Perka BPOM No.21 Tahun 2016 tentang Kategori Pangan menetapkan bahwa SKM tanpa penambahan perisa (plain) harus mengandung kadar protein tidak kurang dari 6,5%. Sementara itu, SKM yang beredar dipasaran mengandung protein sekitar 7,5% jadi tidak ada masalah antara SKM dengan peraturan ini, yang harus diperhatikan dari produk SKM adalah tingginya kandungan gula didalamnya.

3. Rendah Kandungan Kalsium

Kalsium adalah salah satu komponen dalam pembentuk tulang dan gigi pada masa pertumbuhan anak. Susu merupakan salah satu minuman yang digadanng-gadang bisa membantu mensuplai kalsium. Tapi bukan dengan mengkonsumsi SKM juga kaleee.Hasil penelitian menjelaskan bila kandungan kalsium pada SKM paling rendah dibandingkan dengan jenis olahan susu yang lainnya.


Produk SKM tidak berbahaya jika penggunaannya tepat. Menurut sebuah produsen susu ternama, mereka memproduksi SKM bukan untuk dikonumsi sebagai minuman susu, tetapi sebagai krimer atau bahan campuran pangan seperti topping untuk martabak dan es campur, olesan roti serta pembuatan kue. Namun sayang ada beberapa podusen nakal yang masih menayangkan iklan SKM sebagai minuman susu untuk anak. Padahal hal tersebut sangat menyesatkan.

Alternatif lain yang bisa dilakukan para ibu untuk memenuhi kebutuhan protein dan kalsium pada anak yaitu dengan memberi sayur, buah, kacang-kacangan, makanan protein hewani serta nabati seperti ikan, daging, tahu dan tempe. Makanan sehat itu belum tentu mahal, yang harus diciptakan adalah menjadikan proses makan menjadi hal yang menyenagkan bagi anak.

Yuk dukung gerakan #savegenerasiemas2045 dengan menjadi ibu dan konsumen cerdas.