Pentingnya Kesehatan Jiwa Di Tempat Kerja

Masalah kesehatan mental atau jiwa adalah masalah yang kerap terabaikan di tempat kerja. Padahal dampaknya sangat besar terhadap hasil kerja dan kelangsungan perusahaan tempat pekerja tersebut bekerja, karena para pekerja yang depresi tidak bisa bekerja atau melakukan kewajibannya lagi secara optimal.

pict by: http://sirhealth.com

Dalam rangka menyambut hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang diperingati pada tanggal 10 Oktober setiap tahunnya, Kemenkes RI mengadakan Temu Blogger Kesehatan pada tanggal 4 Oktober yang lalu di gedung Kemenkes dengan mengangkat tema Sehat Jiwa di Tempat Kerja. Temu Blogger Kesehatan ini diisi oleh dua narasumber, yaitu dr. Fidiansyah, Sp.KJ,MPH, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza dan Dr. Eka Viora, Sp.KJ, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI).

Tujuan dari kegiatan tersebut adalah sebagai cara Kemenkes untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia dan dunia akan pentingnya masalah kesehatan jiwa, serta membantu memobilisasi segala upaya untuk mendukung Kesehatan Jiwa baik melalui tulisan maupun tindakan. Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini merupakan kesempatan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bahu membahu dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sehat jiwanya di seluruh dunia.


"Berbagai situasi di tempat kerja memungkinkan seseorang terkena depresi. Sebisa mungkin harus bisa benar-benar menjaga keseimbangan mental dan jangan mengabaikan aspek kesehatan mental di tempat kerja," jelas dr. Fidiansyah, Sp.KJ,MPH, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kemenkes.

Kesehatan jiwa sering tidak menjadi perhatian sebagai aspek kunci kesehatan bagi para pekerjaan. Padahal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa depresi mendominasi penyebab penyakit dan kecacatan di seluruh dunia.

Definisi kesehatan menurut UU.Kes No 36 tahun 2009 adalah keadaan sehat baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi.


14, 7% orang mengalami masalah kesehatan jiwa di tempat kerja. Wanita yang bekerja full time 2x lebih rentan terkena masalah kesehatan jiwa dibandingkan dengan laki-laki yang juga sama full time. Masalah kesehatan jiwa dan kesehatan fisik saling terkait dan mempengaruhi. Misal Depresi bisa memicu sakit jantung, diabetes dan penyakit degeneratif lainnya. Semakin meningkat masalah gangguan kesehatan jiwa di tempat kerja, maka semakin besar pula biaya pelayanan kesehatan yang harus dikeluarkan.

Secara global, estimasi biaya pertahun dari penangan masalah kesehatan jiwa mencapai 2,5 triliun USD dan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 6 triliun USD pada tahun 2030. Sedangkan estimasi dampak kumulatif global untuk output mencapai 16,3 triliun USD.


Dr. Eka Viora, Sp.KJ,  Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI).

Semua orang pasti pernah mengalami stres atau depresi di tempat kerja. Faktor penyebab stres alias stresor bisa datang dari mana saja, baik secara internal maupun eksternal. Faktor eksternal stres lebih mudah untuk dikenali, tapi kalau secara internal banyak kasus orang tidak merasakannya. Faktor internal bisa berupa emosi yang kuat dan bersifat negatif. Seperti rasa takut, khawatir, dan cemas bila pekerjaan tidak sesuai dengan keinginan bos. Bisa juga rasa marah, benci, cemburu terhadap rekan kerja satu tim. Atau rasa rendah diri dan merasa tidak berguna. Sementara, faktor eksternal berupa  reaksi seorang individu terhadap lingkungan. Hal ini bersifat traumatik dan tidak bisa dihindari. Misalnya kehilangan pekerjaan, pensiun, konflik dengan atasan.



Stres mempengaruhi seluruh orang dari berbagai lapisan usia sesuai siklus hidup manusia di seluruh dunia. Stres menyebabkan penderitaan dan berdampak pada ketidakmampuan melaksanakan tugas bahkan tugas sehari-hari yang paling sederhana sekali pun.

"Depresi atau stres dapat diobati, namun akses terhadap pengobatan seringkali sulit didapatkan, dan stigma dapat mencegah orang mencari layanan bahkan saat layanan tersebut tersedia. Lingkungan kerja yang sehat memberi dampak positif bagi pekerja dan pemberi kerja," jelas dr. Eka Viora, Sp.KJ,  Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI).

Pada awalnya memang stres atau depresi itu bukan gangguan kesehatan. Namun bila tidak dikelola, stres bisa menjadi hal yang membahayakan. Bahkan sampai depresi hingga memicu kematian.

"Jika masih stres tingkat awal yang ringan itu bisa dikelola dengan bercerita dengan orang lain atau curhat. Tentunya orang yang dipercaya ya, insya Allah tidak akan bertambah tinggi tingkatan stresnya," ungkap dr. Eka.

Jika stres sudah sampai melelahkan bahkan sampai tahap cemas, maka saatnya untuk mencari pertolongan ke tenaga profesional agar tidak berlarut-larut. Depresi juga dapat merusak hubungan dengan keluarga dan teman-teman. Selain itu, dapat menyebabkan ketidakmampuan untuk mencari nafkah. Lebih buruk lagi, depresi dapat mendorong orang untuk bunuh diri dimana saat ini bunuh dirimerupakan penyebab kematian nomor dua pada kelompok usia 15 – 29 tahun.

Data dari  WHO’s Global Health Estimates tahun 2015, bunuh diri atau menyakiti diri sendiri adalah salah satu penyebab paling umum kedua dari angka kematian, setelah kecelakaan di jalan raya pada usia 15-29 tahun di wilayah Asia Tenggara.
Untuk mencegah hal itu terjadi, berikut tips cara mengelola stres dari dr. Eka.

  • Hindari situasi yang mengancam
  • Ubah cara pandang anda dalam melihat situasi 
  • Buat prioritas
  • Control situasi
  • Kelola bagaimana stress mempengaruhi anda
  • Buat tujuan yang realistis
  • Relaksasi
  • Cari tahu apa yang lebih penting

Selai itu dapat juga dilakukan pengelolaan stres secara individu:

• Berolahraga secara teratur
• Berlatihlah untuk membiasakan perilaku sehat
• Jadilah realistis
• Merenungkan
• Kembangkan dan gunakan keterampilan perencanaan
• Kenali dan terima batasan pribadi
• Kembangkan jejaring sosial
• Fokus dan nikmati apa yang anda lakukan
• Beristirahat

Kesehatan adalah keadaan harmoni yang lengkap dari tubuh, pikiran dan jiwa. Ketika seseorang bebas dari cacat fisik dan gangguan mental, gerbang jiwa pun akan terbuka. (B.K.S Iyengar)