Mengenal Kuliner Khas Lampung di Cikwo Resto & Coffee

Setelah berbasah-basahan di Pulau Pahawang, akhirnya rombongan Blogger Cihuy kembali merapat ke daratan. Senja telah menggantung di ufuk barat, lampu-lampu mulai dinyalakan, suara adzan maghrib mulai bergema seiring suara perut kami yang mulai kembali minta diisi. Maklumlah aku kan duduk di kursi belakang, banyak di gajruk-gajruk dan kelelahan tertawa bareng Andini, Uwan dan mbak Dian jadi mudah banget lapar lagi. Hihihi ...



Kali ini rombongan Blogger Cihuy  kembali mengarah ke arah tengah kota Bandar Lampung, tujuan utamanya adalah Cikwo Resto & Coffee. Di tempat ini kita udah janjian sama Bang Indra dan Fajrin buat bersantap malam bersama dengan menu khas Lampung tempo dulu. Nahh ini yang aku tunggu, mengenal kuliner khasnya kota gajah.
Sesampainya dilokasi kami disambut oleh Ibu Isna sang pemilik Resto. Cikwo memiliki arti Kakak Perempuan, jadi aku manggil Ibu Isna dengan panggilan Kak Isna aja ya, biar akrab. 

Kak Isna telah menyiapkan beberapa menu spesial buat kami cicipi, diantaranya:

1. Retak Berulang.

Hidangan ini berisi kacang merah dan kulit sapi yang dioven atau di bakar. Mungkin di Jakarta disebut dengan sayur krecek, yang membedakan adalah kacangnya, di kita biasanya menggunakan kacang tolo sedangkan di Cikwo memakai kacang merah.



2. Pindang Baung atau Pindang Ikan Patin.

Rasa pindang yang satu ini cukup enak dan hampir sama dengan masakan pindang lainya. Mungkin rasanya akan lebih segar bila ditambahkan sedikit potongan nanas di dalamnya. Hanya saran sih.



3. Taboh Iwa Tapa > Gulai Ikan Nila

Gulai ikan ini adalah juaranya di Cikwo Resto & Coffee ini. Cara masakannya unik, sebelum di gulai ikan mujair atau nila di asap selama 6 - 24 jam. Makanya di sebut Iwa Tapa. Ikan yang bertapa. Pengasapan inilah yang membuat ikan matang dan memiliki rasa khas yang berbeda.



4. Sop Iwa Tuhuk atau Sop Ikan Blue Marlin.

Ini menu favoritku, sopnya enak dan seger banget padahal bumbunya sangat minimalis. Suka karena ikannya segar dan rasanya gak amis. Pokoknya jempol buat menu ini.



5. Terong bakar sambel tempoyak.

Tempoyak ini unik, karena terbuat dari fermentasi buah duren, jadi rasanya sedikit asem.



O, iya di sini ada satu jenis lalapan yang mirip jengkol tapi bulatanya kecil, untuk rasa hampir sama dengan jengkol muda.



Untuk minuman saya memesan Es Serut Kweni. Minuman ini berisi serutan daging buah Kweni, telor kodok dan kuah gula merah. Seger banget deh.



Sebenarnya masih banyak menu yang saya cicipi, seperti Pandap, Khalipo Sambol, Gulai Pedos, Sate Iwa Tuhuk dan Rebung. Dan yang menarik Bang Indra sempat mendemonstrasikan cara nyeruit, katanya kalau sudah makan seruit udah syah jadi orang Lampung.



Seruit ini adalah campuran dari tempoyak dan semua hidangan yang ada, hidangan ini biasanya dicampur dengan menggunakan tangan dan dibuat oleh tetua yang dihormati dan merupakan hidangan wajib di acara makan bersama atau upacara adat.



Hidangan yang disajikan di Resto ini sebagian besar berupa olahan ikan yang berasal dari daerah Liwa dan Krui. Hal ini karena orang tua sang pemilik Resto ini berasal dari daerah Liwa dan dibesarkan di daerah Krui, yaitu daerah pesisir Lampung Barat. Jadi gak salah bila kedua daerah ini memiliki pengaruh besar terhadap menu-menu yang disajikan di Resto ini.

Biasanya Kak Isna akan bertanya pada setiap pengunjung yang datang dari daerah lain kira-kira masakan khas Lampung mana yang  mereka ingin nikmati di Restonya ini. Ciri khas lain dari masakan Lampung adalah rasa yang cenderung asin, karena kebanyakan kurang menyukai rasa manis.

Selain masakan berbahan dasar ikan, Cikwo juga menyajikan makanan dengan bahan dasar cumi, udang, gurita dan ayam, namun ikan lah yang lebih menonjol di sini.

Selain menyajikan makanan khas Lampung Cikwo Resto & Coffee juga menyediakan menu minum dari olahan kopi Robusta yang berasal dari Liwa. Menurut Kak Isna, Liwa merupakan salah satu daerah penghasil kopi Lampung yang bagus. Seperti yang kita ketahui bahwa Lampung merupakan salah satu penghasil kopi Robusta. Hampir 70% dari ekspor kopi Robusta berasal dari Lampung.

Tujuan dari menyediakan ruangan untuk coffee shop adalah untuk memperkenalkan kopi robusta kepada kaum muda di Bandar Lampung. Seperti kita lihat, saat ini ngopi sudah menjadi salah satu gaya hidup dikalangan anak muda dan sayangnya mereka lebih banyak mengkonsumsi kopi dari luar daerah Lampung seperti kopi Aceh Gayo, kopi Toraja dan lainnya.

Kopi Robusta asal Liwa ini ditanam di ketinggian tanah 12000 m diatas permukaan laut. Ciri khas dari kopi robusta adalah aromanya yang harum dan tajam serta rasa pahit yang lebih lama tertinggal dilidah. Cara terbaik menikmati kopi robusta adalah melalui seduhan ekspreso dan kopi tubruk tanpa gula.

Cikwo Resto & Coffee memiliki lebih dari 50 pilihan menu seduhan kopi, baik racikan sendiri maupun menu ala caffe yang biasa seperti Coffee Latte, Black Coffee, Cappuccino, Espresso, Vietnam Grips, V60, Americano dan lain-lain.

Pada kesempatan ini saya mencoba black coffee alias kopi hitam dan double sweet coffee. Karena saya pecinta kopi hitam, jadi kurang menyukai rasa manis dari double sweet coffee.



Yang unik dan menarik dari Cikwo Resto & Coffee ini adalah sang brewer atau penyeduh kopi yang bernama Aksioma Subana, yang lebih akrab dipanggil Aci. Dia memang bukan seorang barista, tapi menilik usianya yang masih terbilang muda, yaitu 14 tahun serta masih duduk di kelas 8 SMP, dia sangat berbakat dalam menyeduh.

Cara dia menjelaskan setiap tehnik seduhan yang dia buat pun sangat baik. Katanya sih semua berkat sang ayah yang juga pecinta kopi. Menurut sang ibu, yaitu Kak Isna, Aci telah belajar menyeduh sejak tahun 2014 lalu.



Karena waktu yang semakin larut, dan beberapa teman sudah mulai lelah dan mengantuk, akhirnya kami pamit. Namun di tengah perjalanan kami sempat mampir sebentar ke tugu gajah guna berfoto. Biar kekinian maksudnya. Hehehe ...



Sepertinya Fauzi belom puas dengan duren nih, sempet-sempetnya kembali ke Waihalim. Ozi ... ozi. Aya-aya wae.