Bedah Buku Hijrah Ekstrem Di Tempat Yang Tak Lazim

​Hari ini tanggal 20 Desember 2016 adalah hari untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tempat yang disebut lapas atau lembaga pemasyarakatan khusus wanita kelas 1 Pondok Bambu.
Keberadaan saya di sini bukan untuk meliput narapidana kelas kakap atau menjenguk siapapun. Tapi untuk menghadiri sebuah undangan seminar, launching buku sekaligus konferensi press “Hijrah Ekstrem”buah karya Mirani Mauliza.
Sempet tertahan lama di pintu gerbang karena harus menunggu perintah dari yang berwenang di sana. Karena untuk masuk ketempat itu pengamanan pun cukup ketat. Sempet pusing dan sedikit pegal karena panasnya cuaca serta lingkungan sekitar yang terasa gersang.
Judul bukunya Hijrah Ekstrem, tempat peluncurannya pun tak lazim dan nyeleneh, tapi itulah uniknya dari buku ini. Lalu siapakah Mirani Mauliza ini?
Dia adalah seorang perempuan muda, dengan postur tubuh yang mungil namun memiliki suara dan semangat yang luar biasa besar.
Mira adalah seorang muslimah yang menetapkan diri untuk berhijrah menuju jalan Allah, setelah begitu banyak melewati berbagai drama kehidupan. Dulu dia pernah hidup dalam gemerlapnya dunia malam yang penuh dengan kesenangan semu, lalu tersandung masalah dengan rentenir saat menjalankan bisnis, hingga akhirnya menyeretnya dalam tembok penjara. Tak hanya itu, dramanya terus berlanjut saat dokter memvonisnya dengan penyakit leukemia. Di tengah kegamangan dia sempat putus asa dan hampir mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya.
Drama demi drama kehidupannya penuh dengan skenario yang menyakitkan. Namun di situ perempuan kelahiran Medan 17 Desember 1982 ini menyadari, bila Allah begitu menyayanginya. Ia diberi kesempatan untuk menemukan jalan menuju cahaya-Nya dengan cara ekstrim.
Dan kini istri dari Adi Pratama Larisindo, S.T tersebut tengah berdiri dengan tegap seraya menceritakan kisah hidupnya saat harus masuk bui. Mungkin saat dia memilih tempat ini untuk launching buku pertamanya adalah sebagai ajang napak tilas dari perjalanan hidupnya tersebut.
Sedangkan buku bercover merah dengan ketebalan kurang lebih 200 halaman tersebut merupakan hasil karya dari AsaMediaMu dengan penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. 
Dalam peluncuran buku Hijrah Ekstrem tersebut, Mira didampingi oleh Peggy Melati Sukma, artis yang kini lebih banyak bergelut dibidang sosial dan dakwah, Sofie Beatrix seorang penulis best seller nasional sekaligus pemilik Asa Media yang  bertindak sebagai pendamping dalam penulisan buku tersebut.
Dalam acara tersebut, kepala lapas, Ibu Ira sempat memberikan kata sambutan. Ibu dengan wajah teduh namun tegas ini memohon maaf atas kesulitan yang dialami para media dan blogger yang di undang ke acara tersebut untuk masuk ke dalam area penjara. Beliau pun memberi motivasi pada para penghuni lapas untuk bisa berkarya seperti Mira.
Dalam isi buku tersebut Mira bercerita tentang perjalanan hidupnya di kota Pontianak, bagaimana dia memulai usaha, mengambil keputusan yang salah, saat-saat dia dinyatakan hamil, terjerat masalah, saat dia divonis mengidap penyakit leukemia dan bagaimana waktu dia menghuni rutan, hingga bagaimana dia bangkit kembali dari keterpurukan. Sangat-Sangat drama, namun banyak hikmah dan perenungan serta motivasi yang bisa diambil.
Buku ini pun telah dibuat filmnya yang diputar hanya waktu Mira memberikan seminar. Dan menurut bertubuh mungil tersebut, dia dan timnya berencana menggelar launching buku Hijrah Ekstrem secara safari dari kota ke kota.
Selamat dan sukses buat Mira Mauliza, semoga ceritamu bisa menginspirasi banyak perempuan Indonesia baik yang berada di rutan maupun siapa saja yang telah membaca bukumu untuk bangkit kembali dari keterpurukan. Amin.