Hujan Di Awal Oktober

Sekejam ini kah cinta?

Tak sedikit pun aku pernah mengira bila cerita kita akan secepat ini berakhir. Dan patah hati akan membuatku semerana ini. Aku benar-benar jatuh dan hancur saat dirimu memilih untuk berhenti menyelami hatiku karena masih ingin melihat indahnya permukaan. Kamu bilang, kamu takut serta tak ingin larut dalam kegelapan. Lalu kamu memintaku untuk memaafkan dan menjadikan masa lalu sebagai bagian dari kenangan. 

Ada ribuan kata mengapa, berdentuman di rongga kepala. Dan kata-kata yang paling menyiksa adalah "mengapa harus aku, mengapa harus begini?" Seandainya aku bisa marah dan membencimu mungkin akan lebih mudah untukku. Namun bagaimana bisa aku membencimu? Sementara hatiku telah begitu jauh jatuh ke dalam relungmu. Bukan jatuh cinta, tapi jatuh sayang padamu tanpa syarat. Dan hatiku menolak untuk pergi, meski kenyataannya begitu menyakitkan.

Bagimu mungkin tak sulit berbuat seperti itu, setelah dicintai kamu bisa dengan mudah meninggalkan dan melupakan, semudah membuang tissue kotor. Tak perlu berpikir dua kali. Tapi tidak demikian denganku. Aku harus tertatih untuk sekedar bisa berdiri.

Tidakkah kamu berpikir atau merenungkanya sejenak saja, bagaimana rupa perasaanku, bagaimana perihnya hati ini di saat seseorang yang aku sayangi meminta untuk melepaskan demi seseorang lain yang lebih dahulu mengisi hidupnya.

Aku tahu dan sadar posisiku salah karena telah memasuki daerah terlarang, mencari celah diantara masalahmu, tapi semua bukan keinginanku, kamu jualah yang menuntunku ke sana. Dan setelah aku tenggelam, kamu meninggalkanku dalam kegelapan. Di mana aku tidak tahu jalan untuk kembali.

Seperti katamu, aku selalu menyimpan harapan pada orang yang salah. Aku tahu semua itu keliru, namun aku selalu saja mengulangi kesalahan yang sama. Dan saat ini kesalahan terbesarku adalah membiarkanmu menyalakan kembali pijar yang selama ini sengaja aku padamkan. Meremukan hati yang bertahun-tahun kujaga agar tak terluka. Entahlah, mungkin aku memang terlalu bodoh dan bebal, namun yang jelas saat ini aku lelah teramat sangat lelah. Hingga tak mampu membedakan antara logika dan kenyataan.

Sejak awal aku tahu tidak akan pernah bisa memilikimu dan aku pun tak pernah memintamu untuk memilih, begitupun dengan saat ini, aku tidak akan pernah memohon padamu untuk kembali, meski luka tak pernah mau pergi. Kebersamaan kita memang singkat, namun waktu yang kita habiskan untuk mengukir kenangan begitu panjang. Dan kini ia selalu datang menyiksa malam-malam sepiku, sesakkan diamku. Meski terasa sakit, aku masih mencari dan menyebut namamu dalam doaku, bukan berharap engkau kembali, namun karena rasa ini telah begitu erat menggenggam hatimu.

Dulu aku pernah memintamu untuk bersabar dan berpikir ulang tentang keinginanmu. Sebisa mungkin aku menjadi teman curhat tanpa memihak bahkan mendorongmu untuk memperbaiki diri. Aku tahu betul moment apa yang menjadi titik balik pemikiranmu. Tahu kah kamu, ada rasa bersalah menguliti rasa saat dirimu menyesali suatu peristiwa, terlebih saat kamu mulai berubah, namun dirimu menyangkalnya dan memintaku untuk tak berubah.

Kejadian demi kejadian pun telah memberikan peringatan, namun aku hanya bisa diam dalam bisu, seperti janjiku akan selalu ada selama dirimu membutuhkanku dan siap pergi bila kamu menginginkannya.

Sedini mungkin aku telah mempersiapkan diri untuk terluka, namun ternyata sakit itu tetap mengiris kalbu saat kamu mengucapkan kata, "mungkin ini jalan terbaik untuk kita." Aku paham, aku bukan lagi orang yang kamu inginkan.

Dan yang paling menyedihkan, saat aku butuh pelukan, aku tak memilik siapapun di sampingku. Kini hanya waktu yang menjadi obat segala pilu. Meski jujur aku belum siap untuk kamu tinggalkan. 

Terimakasih sudah mengajarkanku arti bahagia sekaligus mengajarkan arti derita. Dan bila suatu hari aku mendengar atau melihatmu bahagia, dengannya atau dengan yang lain. Satu pintaku, aku titip kenangan tentang kita.