Walikota Pangkalpinang M. Irwansyah Siap Jadikan Festival Ceng Beng Sebagai Wisata Religi

Pangkalpinang yang dipimpin oleh Walikota M. Irwansyah Sofyan Rebuin ini, berada di wilayah bagian Timur Pulau Bangka dan dibelah Sungai Rangkui. Tak sulit menjangkau kota seafood ini dari Jakarta, hampir tiap jam ada penerbangan yang menuju ke kota tersebut dan hanya memakan waktu satu jam saja. Dari bandara kita bisa menyewa mobil atau mengunakan taksi.

Saat ini Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, terutama Pangkalpinang  sedang giat-giatnya memajukan pariwisata dan berharap bisa menjadi destinasi yang wajib dikunjungi oleh wisatawan manca negara maupun wisatawan dalam negeri.

Salah satu gerakan yang tengah dilakukan Wawan Rebuin, sebutan akrab untuk Walikota Pangkalpinang adalah dengan memprkenalkan festival Ceng Beng kepada masyarakat luas.

Festival Cheng Beng (Hokkian) yang berarti cerah dan terang atau dikenal juga dengan festival Qingming adalah ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah kubur sesuai dengan ajaran Khong Hu Cu yang berlangsung di area pekuburan Sentosa yang menurut sejarah telah berdiri sejak tahun 1935 Masehi.

Festival Ceng Beng sendiri  dilaksanakan pada hari ke-104 setelah titik balik Matahari di musim dingin atau hari ke-15 pada hari persamaan panjang siang dan malam di musim semi. Atau lebih umumnya dirayakan pada tanggal 5 April atau 4 April di tahun kabisat.

Dan di tahun 2016 ini perayaan Ceng  Beng jatuh pada tanggal 4 April. Di beberapa negara Tiongkok, seperti Hong Kong, Macau dan Taiwan festival ini dijadikan hari libur umum. Di Korea, Ceng Beng dikenal dengan sebutan Hansik.

Mengapa Walikota Pangkalpinang merencanakan festival Ceng Beng sebagai wisata religi? Karena festival ini merupakan salah satu festival terbesar di Pangkalpinang dan semua warga Tionghoa yang berasal dari Pulau Bangka, pulau Belitung maupun yang ada di perantauan di berbagai daerah dan luar negeri seperti Hongkong, Singapura, dan RRC berdatangan ke komleks pemakaman Sentosa untuk melaksanakan ritual Ceng Beng. Maka tak heran bila harga tiket menjelang hari Ceng Beng meroket tajam. Festival Ceng Beng ini memiliki beberapa keunikan dan bisa menarik wisatawan asing maupun domestik. Hal ini di sambut baik oleh Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung serta jajaran Kementerian Pariwisata Pangkalpinang. 

Dan Wawan sendiri menyatakan kesiapannya untuk mengemas festival Ceng Beng ini lebih baik lagi.

"Untuk kedepannya kita akan mengemas festival Ceng Beng  seperti upacara Ngaben di Bali," jelas walikota pencinta sepak bola ini.

Pelaksanaan festival Ceng Beng tahun ini di mulai pukul 3 pagi diawali dengan pagelaran tanjidor, lalu sambutan dari Ketua yayasan Sentosa Djohan Ridwan Hasan, dilanjutkan dengan sambutan dari Asisten Daerah Pangkalpinang, Suparyono yang mewakili M. Irwansyah untuk membuka festival ini, lalu sambutan dari perwakilan Kementerian Pariwisata yang sengaja hadir dari Jakarta.

"Kami sangat berharap untuk kedepannya bisa menjadikan festival Ceng Beng ini sebagai salah satu destinasi wisata religi seperti Ngaben di Bali dan menjadikannya sebagai hari pulang kampung terbesar selain lebaran," papar Suparyono saat membacakan sambutan dari Walikota Pangkalpinang M. Irwansyah.

Seusai membacakan sambutan, Suparyono di dampingi Pak Elvian melakukan ritual pelepasan lampion yang memiliki simbol sebagai menerbangkan harapan, disusul dengan pesta kembang api.

Acara yang berlangsung di depan Paithin ini selain dihadiri oleh Walikota Pangkalpinang, Muhammad Irwansyah Sofyan Rebuin, S.Sos, M.Si, juga di hadiri oleh Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rustam Effendi, Danrem 045 Gaya, Kolonel Inf Tjaturputra Gunadi Genah, Dandim 0413 Bangka, Letkol Inf Daniel Nainggolan Lumbanraja, Kapolres Pangkalpinang, AKBP Heru Budi Prasetyo, Kabid Wisata Budaya Kemenpar, Ni Putu G Gayatri yang didampingi oleh Kasubid Wisata Sejarah dan Religi Kemenpar, Wawan  Gunawan, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Olahraga Pangkalpinang, Akhmad Elvian serta jajaran dinas pariwisata setempat.

Sekilas tentang komplek pemakaman Sentosa.

Bila menilik prasasti pada tugu pendiri makam yang terletak di depan Paithin  atau rumah tempat sembahyang, kompleks pemakaman ini didirikan oleh empat orang yaitu Yap Fo Sun wafat pada tahun 1972 Masehi, Chin A Heuw  wafat pada tahun 1950 Masehi, Yap Ten Thiam wafat pada tahun 1944 Masehi dan Lim Sui Cian (tidak terdapat tahun wafatnya hanya tertera pada masa pendudukan Facisme Jepang).

Di dalam Paithin sendiri tampak masyarakat yang hadir memanjatkan doa kepada leluhur yang meninggal dengan menyalakan hio, agar leluhur tersebut mendapat tempat terbaik disisi Sang Pencipta. Tempat ritual yang biasanya mulai ramai sejak pukul 02.30 WIB dini hari ini tampak penuh dengan sesajian yang telah disiapkan warga diantaranya Sam-sang (tiga jenis daging) ayam, kambing dan babi, Sam kuo (buah-buahan) pear, apel, jeruk, nanas dan Cai choi (makanan vegetarian), serta aneka kue.

Kompleks pemakaman Sentosa yang terletak di jalan Bukit Abadi di sisi Timur Jalan Soekarno Hatta Pangkalpinang, memanjang dari Utara ke arah Selatan dengan luas kompleks makam seluruhnya 199.450 m² (19,945 hektar). Sampai sekarang kompleks pemakam terbesar di Asia ini masih berfungsi, dengan jumlah sekitar 11.478 makam. Saat berlangsung festival Ceng Beng di depan gerbang terlihat jejeran lilin berwarna merah yang akan di bawa peziarah. Lilin yang dibawa mewakili berapa orang leluhur yang diundang hadir.

Tanah pekuburan Sentosa sebelum dikelola Yayasan Sentosa awalnya merupakan sumbangan dari keluarga bermarga Boen, salah satu keluarga terpandang di Pangkalpinang yang juga menyumbangkan tanahnya untuk pembangunan kelenteng Kwan Tie Miau  pada tahun 1841 Masehi yang terletak di Jalan Mayor H. Muhidin Pangkalpinang.

Di antara ribuan makam orang-orang Cina yang beragama Kong Hu Cu dan Katolik, juga terdapat dua makam yang beragama Islam yaitu makam Ny. Tjurianty Binti Kusumawidjaya lahir tanggal 27 September 1947 Masehi, wafat tanggal 9 Desember 1994 Masehi dan pada sisi Selatan agak ke Barat di sisi jalan terdapat makam Gunawan Bin Tanda, lahir tanggal 30 Maret 1978 Masehi, wafat tanggal 7 November 2008 Masehi.

Ritual Ceng Beng berlangsung sekitar 10 hari dan acara puncaknya pada tanggal 4 atau 5 April, namun bukan berarti sembahyangan berhenti sampai di situ, masyarakat masih saja memenuhi pemakaman sampai beberapa hari berikutnya.

Komplek pekuburan Sentosa tidak hanya ramai saat Ceng Beng, tapi juga menjelang perayaan paskah, banyak kaum nasrani yang berziarah kubur.

Pesan Moral Perayaan Ceng Beng :

Festival Ceng Beng terkait dengan pilar-pilar budaya Tionghoa yaitu penghormatan kepada leluhur, makanan, kekerabatan, keselarasan dan harmony, setia, berbakti, dan juga kebersamaan. Dan hal itu tidak hanya ada pada festival Ceng Beng saja tapi tercermin pada semua festival Tionghoa yang ada.

Dengan menghormati leluhur berarti kita harus menjaga sikap hidup kita agar tidak mencoreng nama leluhur. Maka tak berlebihan bila M. Irwansyah selaku walikota dan tunas bangsa yang lahir di Bangka ini, ingin menjadikan festival Ceng Beng ini sebagai wisata religi guna mengangkat pariwisata Pangkalpinang.

Semoga pada perayaan festival Ceng Beng ini kita menyadari bagaimana cara kita menghormati leluhur, caranya sederhana yaitu berikanlah kontribusi positif pada lingkungan kita dan selalu menjaga perilaku kita agar tidak memalukan para leluhur.

*foto koleksi pribadi.