Keroncong Pesona Indonesia Cerita Dari Sinden Untuk Negeri

Jumat, 1 April 2016, mendadak Graha Bhakti Budaya-Taman Ismail Marzuki, Jakarta ramai oleh para pengunjung dan beberapa orang dengan seragam keamanan. Namum suasana tetap terasa santai. Kedatangan para pengunjung itu adalah untuk menyaksikan acara musik Keroncong Pesona Indonesia yang bertajuk Persembahan Untuk Waldjinah.

Terlihat beberapa seniman besar seperti  Djaduk FeriantoButet Kartaredjasa serta para undangan yang terdiri dari orang penting di negri ini berkumpul dan bercengkrama di area lobi.









Sebelum acara dimulai, terlihat  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Anies Baswedan dan Kepala Staf Presiden Bapak Teten Masduki, memasuki ruangan dan langsung di serbu para awak media.










Di sisi lain tampak juga Menteri Pariwisata Bapak Arief Yahya yang menjelaskan tujuan diselenggarakannya acara ini yaitu selain sebagai tanda terimakasih kepada Ibu Waldjinah juga karena musik termasuk keroncong merupakan bagian dari industri kreatif bisa menjadi daya tarik pariwisata Indonesia.



"Musik mempunyai hubungan erat dengan pariwisata karena sama-sama masuk kategori gelombang keempat sebagai cultural industry atau creative industry setelah tiga gelombang lain yaitu pertanian, manufaktur, dan teknologi informasi," jelas Menpar Arief Yahya sesaat sebelum memasuki ruang pertunjukan seni musik keroncong tersebut.


Menurut Menpar, musik keroncong dapat dilestarikan melalui kegiatan pariwisata, begitupun sebaliknya pariwisata dapat dipromosikan melalui musik keroncong. Ia menambahkan, bahwa kegiatan wisata yang sukses itu bila ada kerumunan orang banyak atau crowd.
"Untuk menciptakan crowd itu antara lain dengan pertunjukan musik," sambung Arief Yahya.

Selain itu, Menpar Arief Yahya juga  menceritakan salah satu indikator suksesnya pariwisata menyambut event Gerhana Matahari Total (GMT) pada 9 Maret 2016 lalu adalah di tempat wisata tersebut banyak kerumunan atau crowd.

"Dan ternyata dari 12 lokasi yang dipersiapkan menyambut GMT, Palu lah yang paling crowd karena di sana ada konser Slank," ucap Arief Yahya seraya tersenyum.
Grup band seperti Slank memang kerap kali melakukan kolaborasi dengan grup musik dari daerah sehingga lebih menarik kaum muda untuk datang ke tempat konser tersebut. Kedatangan kaum muda yang ingin menyaksikan konser musik inilah bagian dari  pergerakan wisnus, jelas Menpar Arief Yahya.

Menpar sendiri berharap bisa  mempopulerkan kembali dan melestarikan musik keroncong di kalangan anak muda. Menurutnya bila musik keroncong sering ditampilkan dalam konser kolaborasi dengan grup musik atau penyanyi yang banyak digemari kaum muda maka musik keroncong pun akan populer kembali di negeri ini.


Pertunjukan musik Keroncong Pesona Indonesia Persembahan untuk Waldjinah ini dikemas dengan sangat menarik, mengkolaborasikan antara penyanyi keroncong dengan penyanyi berbasis tradisional, penyair dan pembaca puisi, serta artis komedian. Para artis pengisi acara diantaranya SoimahEndah Laras, Sruti RespatiRita TilaKelompok Sahita, Sudjiwo Tejo, Butet Kartarajasa,   Miing BagitoCak LontongAkbar, serta Trio Gam dan di sutradarai oleh sang Proklamator Jancukers sendiri.


Bapak Presiden Joko Widodo di tengah kesibukannya hari ini berkesempatan menghadiri acara Keroncong Pesona Indonesia ini. Dipandu seniman sekaligus budayawan Butet Kertaradjasa, Bapak Jokowi naik ke panggung menghampiri Ibu Waldjinah yang duduk di kursi roda. Bapak Jokowi yang mengenakan batik hijau berlengan panjang itu membungkuk sembari memberikan seikat bunga kepada Ibu Waldjinah sebagai tanda tresno. Menyalami lalu menepuk bahunya seraya berbincang dengan bahasa Jawa.

"Ibu Waldjinah, terima kasih atas totalitasnya mengabdi dan menjaga kebudayaan Indonesia," ucap Bapak Jokowi dalam sambutan singkatnya
.

Saya sempet stallking di akun medsosnya dan menemukan status ini.
"Malam ini menjadi bagian dalam acara Keroncong Pesona Indonesia yang dipersembahkan untuk maestro penyanyi keroncong Waldjinah," (kutipan dari status facebook Presiden Joko Widodo)


Ibu Waldjinah adalah penyanyi spesialis keroncong langgam Jawa yang mengawali kariernya sejak menjadi juara pertama Bintang Radio Indonesia tahun 1965. Penyanyi yang mendapat julukan Ratu Keroncong di era tahun 1970-an ini sukses meluncurkan beberapa album, diantaranya berjudul Walang Kekek, Jangkrik Genggong, dan Rujak Ulek. Banyak lagu keroncong yang dibawakannya telah direkam dalam bentuk piringan hitam, kaset, dan CD digemari masyarakat hingga kini baik dari kalangan tua maupun muda.


Acara yang merupakan gagasan dari Seniman Butet Kartaradjasa dan didukung oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia ini sukses membuat penonton tertawa dan menikmati pertunjukkan hingga selesai. Selalu suka sama penampilan Sudjiwo Tejo.


Semoga dengan acara ini nasib para pesinden dan pelaku seni bisa mendapat lebih perhatian dari pemerintah dan musik Keroncong bisa kembali populer.



*foto koleksi pribadi dan dari facebook Presiden Joko Widodo serta dari facebook Kemenpar.