Dalam Memperingati Hari Kartini, Kennedy Jennifer Dhillon Mempersembahkan Film Women and Impact Untuk Perempuan Indonesia

Menurut dokumentasi Komnas Perempuan, kasus kekerasan seksual di Indonesia berjumlah hampir seperempat dari seluruh kasus yang dilaporkan ke komisi ini. Sepanjang tahun 2001-2012 terdapat 400.939 kasus. Jadi setiap hari sedikitnya ada 35 perempuan termasuk anak perempuan mengalami kekerasan seksual. Bila dipersempit lagi artinya dalam kurun waktu per dua jam ada 3 perempuan Indonesia yang menjadi korban kekerasan seksual.


Itu hanya yang terdata karena berani melapor. Tak dapat dipungkiri masih banyak perempuan Indonesia yang tidak berani melapor dan menerima nasib begitu saja dengan alasan malu dan sebagainya. Kekerasan seksual menyasar semua umur, dari dewasa hingga balita, pelakunya pun bisa siapa saja baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal oleh korban.

Namun mayoritas pelaku adalah orang dikenal oleh korban, baik itu yang memiliki hubungan darah, perkawinan maupun kekerabatan.
Kekerasan terhadap perempuan ini kian hari kian beragam dan berkembang, sementara hukum materil dan formal yang mengaturnya masih sangat terbatas. 

Hingga saat ini masih banyak jenis kekerasan seksual yang terjadi di masyarakat namun tidak dapat diproses secara hukum, dikarenakan tidak tersedia perangkat hukumnya. Sedikitnya ada 15 jenis kekerasan seksual terhadap perempuan, namun di negara kita hanya baru mengenal 3 diantaranya saja. Sungguh miris bukan?


Persoalan pun datang dari KUHAP yang tidak memberikan ruang bagi korban sebagai subjek dalam sistem pengadilan pidana, juga tidak mengatur mekanisme pemulihan bagi korban. 

Padahal, kekerasan yang masih dianggap tabu untuk diungkap ini dapat menyebabkan dampak multi-dimensi, baik bagi korban, keluarga maupun komunitasnya. Selain kekerasan seksual masih banyak kekerasan lain yang diterima perempuan, baik itu dari keluarga, lawan jenis bahkan dari perempuan lain.

 

Berangkat dari rasa peduli terhadap masa depan perempuan Indonesia yang mengalami kekerasan, sekaligus memperingati Hari Kartini, Kennedy Jennifer Dhillon, bersama kedua temannya Kusen Dony dan Mindo Carlo Sopar Pasaribu mencoba mempersembahkan  Film Dokumenter tentang Perjuangan Perempuan.

Film yang berjudul Women and Impact di produksi oleh King Of The Day Production  menghadirkan 15 perempuan Indonesia dengan berbagai latar belakang yang berbeda sebagai cast sekaligus narasumber. Di antaranya: Imela Key, seorang penyanyi,  Mariana Amirudin Komisioner Komnas Perempuan, Helga Inneke Worotitjan  dari aktivis perempuan, Kartika Yahya  aktivis perempuan dan penyanyi, Yacko Oktaviana  penyanyi sekaligus dosen, Terry Endroputro  pendiri negriID dan Blogger, Sandra Fetasari Putri korban 27 Juli 1996 dan politisi, Christine Siahaan  aktivis HIV, Erni Suyanti MusabineGrace KailuhuBaby Jim Aditya psikolog seksual, LianaElizabeth SantosaSanti Maria dan Meita Winarno.


Dan pada tanggal 26 April 2016 kemarin, pemilik King Of The Day Production ini bekerja sama dengan pihak Komnas Perempuan  menggelar screening dan diskusi film Women and Impact dengan mengambil tempat di gedung Komnas Perempuan itu sendiri yaitu di jalan Latuharhary no. 4B Menteng-Jakarta Pusat. Sayang dari 15 narasumber hanya 6 orang saja yang bisa hadir.

Penggarapan film Women and Impact  sendiri berangkat dari pengalaman Kennedy sendiri yang terkena stigma perempuan tidak boleh melakukan hal-hal yang berbeda. Penulis buku #FIGHT #PRAY #HOPE  serta Kanker Bukan Akhir Segalanya ini menceritakan, bagaimana orang tuanya yang masih memiliki darah India, melarang dia untuk menjadi seorang sutradara, sebab mereka berpikir pekerjaan ini hanya dilakukan oleh laki-laki.

Diskusi selain membahas film Women and Impact juga membahas tentang kekerasan seksual terhadap perempuan yang tidak di munculkan di dalam film. Karena film Women and Impact sendiri hanya menunjukkan jika perempuan memiliki potensi yang sering kali masih di pandang rendah dan tidak untuk mengexplor sang narasumber.


Menurut Baby Jim Aditya, alasan terjadinya pelecehan seksual karena pandangan yang salah terhadap tubuh perempuan itu sendiri. Dan pandangan masyarakat yang masih suka memberi sanksi sosial kepada perempuan terlepas dari salah atau tidaknya sang perempuan.

"Alangkah sulitnya bagi perempuan untuk menjaga kehormatan yang berada di selangkangannya bila laki-laki tidak pernah diberi sanksi sosial," jelas psikolog seksual yang konsisten melakukan pendampingan pada korban kasus kekerasan seksual maupun KDRT tersebut.

"Pekerjaan sek tidak akan ada bila pembelinya tidak ada," tandas Baby.

"Dan bagaimana pelatihan keterampilan yang diberikan kepada mereka bisa menghasilkan target, bila alat, tempat dan promosi saja tidak diberikan," jawab psikolog itu saat menjawab pertanyaan peserta tentang prostitusi.

Sedangkan Liana menuturkan tentang diskriminasi yang dia peroleh karena dia lahir sebagai perempuan keturunan Chinese.
"Jangan pernah berpikir untuk mengexplor tubuh agar dicintai," ungkap Liana seraya tersedu saat menuturkan tentang kisah masa silamnya.

Tanpa disadari ucapan seorang suami yang mengatakan "kamu gendut, bisa gak sih ngurusin badan, atau kamu jelek pake baju itu" sudah merupakan kekerasan secara verbal, dan dampaknya bisa membuat minder. Jadi, untuk para laki-laki berhentilah menyalahkan perempuan karena pakaian dan tubuhnya. 

Ada banyak cerita yang diungkapkan oleh masing-masing narasumber ini yang mengundang titikan air mata  sekaligus rasa simpati, dan mereka hanya sebagian saja, masih banyak perempuan-perempuan Indonesia di luar sana, entah kita kenal atau tidak hanya diam menerima nasib tanpa tahu harus bagaimana.

"Semakin banyak laki-laki yang dilibatkan dalam kegiatan perempuan, maka semakin banyak laki-laki yang mengerti akan perempuan," Baby Jim Aditya.