Surat Dari Praha, Film Terbaru dari Angga Dwimas Sasongko Yang Kaya Akan Makna

"Waktu mengubah banyak hal katamu. Tapi bagiku, waktu tak mengubah apa-apa, ia hanya menyingkap realita." (Surat Dari Praha)



25 Januari 2016, pagi ini aku mengawali hari dengan malas, mungkin karena cuaca pagi yang tidak mendukung alias mendung, mungkin juga karena mata ini baru bisa terlelap satu jam sebelum wekerku berbunyi pada jam tujuh.

Karena aku adalah seorang ibu dengan anak remaja yang masih harus diurusin, maka mau gak mau kusingkirkan selimut yang baru saja memberi kehangatan itu.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8:30 saat kunyalakan hp, yang tadi sempat aku matikan. Niatnya sih mau kembali menelusuri alam mimpi. Namun niat itu seketika gugur saat membaca chat-an grup KOPI yang sudah rame dari jam 6 tadi.

   
Gila! Jam 9:15 aku sudah harus berada di XXI Epicentrum buat nobar film Surat Dari Praha. Sempet galau karena jelas banget gak mungkin bisa sampai ke lokasi dalam tempo setengah jam, tapi karena sudah cinta sama karya sineas muda yang  bernama Angga Dwimas Sasongko, maka aku tekankan lebih baik terlambat daripada tidak bisa nonton sama sekali.

Ternyata gak sia-sia perjuanganku untuk berdesak-desakan di kereta KCL pada senin pagi yang sangat sibuk. Meski pas sampai di lokasi filmnya sudah diputar selama lima belas menitan tapi aku enjoy dan puas, malah pengen nonton lagi dan lagi.

Sinopsis Film Surat Dari Praha:

Film yang menandai 20 tahun perjalan berkarir Glenn Fredly ini bercerita tentang seorang gadis bernama Larasati (Julie Estelle), yang terpaksa harus memenuhi wasiat ibunya, Sulastri (Widyawati Sofyan), untuk mengantarkan sebuah kotak dan sepucuk surat kepada Mahdi Jayasri (Tio Pakusadewo), seorang eksil asal Indonesia yang juga terpaksa harus bermukim di Praha, Republik Ceko, karena kehilangan kewarganegaraan pada saat menolak Orde Baru.

Sikap tak acuh Jaya terhadap kedatangan Laras dan bukti surat laki-laki itu kepada ibunya membuat gadis yang besar di lingkungan keluarga kurang harmonis dan memiliki hubungan tidak baik dengan sang ibu itu berprasangka buruk dan menudu Jaya sebagai penyebap ketidakharmonisan itu. Karena merasa tersudut, pria setengah baya tersebut terpaksa harus menjelaskan apa yang baginya telah ia ikhlaskan.

Lalu dapatkah Jaya menjalani sisa hidupnya tanpa rasa bersalah dan Larasati mampu kembali percaya bahwa cinta sejati itu ada?

 "Dan pada akhirnya, hidup itu tentang berupaya dan saling rengkuh sebab takdir mampu menikam lebih keji dari apa pun." (Surat Dari Praha)


Review:
Cerita yang terinspirasi dari kisah kehidupan para pelajar Indonesia di Praha yang tidak bisa kembali akibat perubahan situasi politik dalam negeri pada tahun 1965-an ini, intinya mengajak untuk bisa memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri dan sisi gelap masa lalu.

"Ingatan selayaknya tidak lagi perlu disortir oleh kekuasaan, dan sejarah sesungguhnya adalah modal kekuatan sebuah bangsa." (Surat Dari Praha)

Dan lagi-lagi sutradara dari film Filosofi Kopi dan Cahaya Dari Timur ini membuatsaya jatuh cinta pada karyanya. Terlebih ditambah alunan merdu karya si tangan dingin Glenn, "Nyali Terakhir" yang dinyanyikan oleh Julie dan "Sabda Rindu" dari Tyo. Syahdu dan nyastra, langsung kena di hati.


Tyo maupun Julie bermain sangat apik, beberapa percikan emosi diantara mereka membuat saya hampir tak berkedip dan hanyut dalam suasana romantis. Air mata pun sempat turun meski tidak aku undang. Chemistrynya jempol. Terlebih antara Tyo dan Widyawati.

Film produksi Visinema Pictures yang bekerja sama dengan Tinggikan Production dan 13 Entertainment ini akan tayang di bioskop pada tanggal 28 Januari 2016.

"Kadang aku bertanya-tanya; mengapa waktu tak mengerti, betapa aku sudah tersiksa rindu menghitung hari?" (Surat Dari Praha)


Dan selain screening, acara hari ini juga diisi oleh prescon, pagi hingga siang serta gala premier pada nanti malam.

Pada saat prescon para produser yang terdiri dari Anggia Kharisma, Handoko Hendroyono, Chicco Jerikho, Angga Dwimas Sasongko, Glenn Fredly serta para casts, termasuk beberapa orang mantan eksil (tahanan politik) yang juga terlibat dalam film ini hadir dan memberikan statementnya.

"Kisah dan narasi tentang peristiwa '65 adalah pengalaman. Materi penting untuk dipelajari dan direnungkan, sehingga kita sebagai komunitas bangsa mampu memperbaiki diri. Tujuan saya dalam film ini hanya satu; bercerita. Itulah esensi dari sebuah film menurut saya," tutur Angga.

Film yang mengkombinasikan antara musik, cinta, kisah romantis dan sejarah yang ditulis apik oleh M. Irfan Ramli ini, menggandeng dua brand Mayora, yaitu Torabika Creamy Latte yang enak kopinya dan permen Kis sebagai promotor. Iklan pun dikemas cantik oleh Rio Dewanto yang berperan sebagai Dewa.

Tadi sempat berbincang dengan dua sejarawan yang terlibat dalam film tersebut. Saya yang lahir jauh di bawah mereka sangat tertarik dengan kisah nyatanya yang gigih mempertahankan idealisme dan saya pun jadi melek politik serta sejarah tak tertulis dari masa lalu negara kita. Om Ronny dan Om Koentyo Soekadar. Kedua Opa ini sangat asyik diajak ngobrol.


Setuju dengan pendapat Om Han Wijaya, kalau film ini layak mendapatkan piala citra. Semoga ya, kedepannya perfilman kita bisa semakin maju dan lebih baik lagi.

"Jika kau meragu apakah aku pernah redup menunggumu, jawabannya adalah, ya. Namun rindu selalu punya cara menyalakan harapanku." (Surat Dari Praha)

Detil Film Surat Dari Praha
Genre : Drama, Romantis
Sutradara : Angga Dwimas Sasongko
Penulis Skenario : M. Irfan Ramli
Produksi : Visinema Pictures
Tanggal Rilis : 28 Januari 2016
Produser : Anggia Kharisma, Handoko Hendroyono, Chicco Jerikho, Angga Dwimas Sasongko, Glenn Fredly.
Pemain : Julie Estelle, Rio Dewanto, Tio Pakusadewo, Chicco Jerikho, Eva Jaryfoya, Shafira Umm, Jajang C. Noer.


"Ketika waktu melahirkan rindu dan kau hanya bisa menunggu, tidak ada yang bisa kau lakukan selain memeluknya dalam doa dan menanti hingga nyali terakhirmu usai atau melepaskannya." (Surat Dari Praha)

   
*foto koleksi pribadi, poster serta kutipan di ambil dari panfage Surat-dari-Praha