Kemenpar Pastikan Pariwisata Di Jakarta Aman Terkendali

Tanggal 14 Januari 2016, sebuah tanggal yang tidak akan aku lupa. Hari itu seharusnya saya bertemu dengan seorang sahabat di sebuah cafe shop di bawah Jakarta Theater. Namun entah mengapa saya menolaknya. Dan yang lucunya, dari kemarin-kemarin saya lupa tentang jadwal tanggal 14. Seolah hilang begitu saja. Entah apa yang terjadi bila hari itu saya berada di sana.


Memang banyak spekulasi terhadap insiden tersebut, namun berkat kesigapan aparat yang berwajib kejadian tersebut bisa diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat, hanya dalam tempo 5 jam semua tersangka sudah bisa ditangkap dan TKP sudah bersih. Hebat, bravo buat aparat kepolisian kita.

Seperti yang dilansir beberapa media nasional ternama dan terpercaya, sehari setelah insiden, Ibukota sudah di nyatakan aman dan kembali normal. Malah TKP tampak lebih ramai oleh berbagai aktivitas yang menyatakan bahwa KAMI TIDAK TAKUT.


Sejumlah turis asing di sekitar Sudirman pun terlihat santai melakukan aktivitasnya. Beberapa menyatakan pendapatnya, secara tegas dan menunjukkan rasa tidak takut atas upaya teror pos polisi Thamrin kemarin.


Pada hari yang sama, Menpar Arief Yahya langsung membentuk Tim Crisis Center Kemenpar dan mengadakan sidak di kawasan tersebut untuk memastikan kawasan Sarinah dan Thamrin Aman.

Pada kesempatan itu Menpar mengunjungi beberapa hotel yang berada di kawasan tersebut, diantaranya Sari Pan Pacific, Hotel Indonesia Kempinski, Ibis Tamarin, Grand Hyatt, Fave Hotel, Ar+Hotel, Pullman, Akmani Hotel, Oria Hotel, Mandarin Oriental, Grand Cemara, Hotel Kosenda, Morrisey Hotel dan Amaris Hotel.

“Tim Crisis Center sudah mengecek satu per satu, dan sampai pukul 22.00 waktu setempat, Jakarta aman terkendali. Mereka sangat percaya bahwa insiden di Thamrin itu sudah lewat, dan tidak berpengaruh sama sekali,” jelasnya.

Menpar mengakui bila sektor pariwisata memang yang paling sensitif ketika terjadi suatu insiden. Namun dengan bersatunya masyarakat dari berbagai golongan yang siap membela Tanah Air, membuat negeri ini bangkit, semakin kuat dan tidak takut.

"Saat ini pariwisata khususnya di Jakarta sudah normal, buktinya tingkat kemacetan berjalan seperti biasa di sekitar jalan Sabang dan Thamrin. Tamu-tamu hotel pun merasa tidak merasa terganggu dengan adanya teror kemarin," ujar Menpar Arief Yahya yang melakukan peninjauan dengan berjalan kaki dari satu hotel ke hotel lain pada tanggal 15 Januari 2016 lalu.

Selain sidak beliau juga sempat berbincang-bincang dengan beberapa GM hotel dan para tamunya. Dan semua mengatakan segalanya berjalan normal, tidak ada tamu yang membatalkan rencana menginap di hotel atau check out secara mendadak.

Reginda Togatorop, GM Mercure Jakarta Sabang, mengatakan, "kemarin tingkat hunian mencapai 91 persen, Jumat ini mencapai 70-an karena hari  ini mulai memasuki weekend. Hotel bisnis biasanya lebih ramai pada weekdays. Kami senang aparat dan pihak pariwisata cepat tanggap membenahi wisata kita."

Ini bukan pencitraan, karena seperti yang kita ketahui, pariwisata adalah sektor unggulan dalam menciptakan lapangan kerja dan penyumbang pendapatan negara. Terlebih dalam waktu dekat Indonesia akan menjadi tuan rumah event-event internasional mulai dari perhelatan TAFISA Oktober 2016, MotoGP 2017 dan Asian Games  2018. Jadi wajar bila Mempar bertindak cepat.


Dalam kesempatan ini, Menpar Arief Yahya juga menjelaskan bila peristiwa teror di Jakarta tidak berpengaruh terhadap aktivitas pariwisata di daerah, seperi Bali, Batam dan wilayah lainya. Terutama di Bali yang pernah memiliki sejarah pengeboman yang waktu yang lalu.

Hari ini, saya baru menginjakkan kaki kembali di depan Sarinah. Di beberapa tempat seperti stasiun, pusat perbelanjaan dan perkantoran sekitar Jalan Sudirman, Thamrin dan Kuningan, memang ada peningkatan pengamanan. Namun aktivitas warga terlihat berjalan sebagaimana hari-hari biasa.


Car Free Day kali ini masyarakat memfavoritkan tempat tersebut untuk selfie.
Ini salah satu kutipan dari seorang turis asing di salah satu media.

"Serangan teroris tidak membuat saya khawatir.  Mungkin ini klise. Tetapi, jika Anda menjalani hidup dalam ketakutan bom, maka teroris menang. Kami lebih memilih menjadi korban kecelakaan mobil daripada terjebak pada ledakan bom. Tapi, hal itu tidak akan menghentikan saya untuk tetap berkeliling menyusuri Indonesia," ungkap David Steedman, turis asal Inggris.

Bila turis saja tidak takut, apalagi kita. Yuk, mari bergandeng tangan dan tunjukan pada dunia, Jakarta aman, Indonesia aman.

*foto dan sumber dari google, berita satu.com, harian terbit.com, jpn.com, inilah.com, Kemenpar dll.