I am Hope, Kado Gerakan Peduli Kanker

Pernah denger tentang gelang harapan? Gelang yang terbuat dari kain perca sisa kain khas nusantara dari desainer kondang dan peduli kanker, Ghea Soekasah dibuat untuk semua penderita dan warrior kanker se-Indonesia dan jadi ikon solidaritas ini kemarin-kemaren sempet buming dan rame dibicarakan orang.
               

Gerakan Gelang Harapan (Bracelet Of Hope), tidak berhenti hanya membuat gelang dalam menjalankan kampanye solidaritasnya, kini bersama Alkimia Production yang digawangi oleh Wulan Guritno, Amanda Soekasah dan Janna Soekasah-Joesoef selaku tim produser meluncurkan sebuah film peduli kanker yang dikemas secara muda, fun dan hip bertujuan untuk membangkitkan semangat akan harapan lalu menyebarkannya serta menelurkan budaya dan tradisi solidaritas ini.

Film I am Hope berkisah tentang  perjuangan seorang gadis muda bernama Mia yang divonis mengidap kanker, dan Maia yang menjadi semacam penyangga semangat dan inspirasi Mia untuk melalui tantangan demi tantangan menghadapi penyakit kanker dan memperjuangkan mimpinya untuk tetap berkarya.

“Kami bersyukur bahwa proses produksi I am Hope berjalan lancar, kami mengucapkan terima kasih atas dukungan banyak pihak. Harapannya semoga film ini menjadi inspirasi perjuangan bagi banyak orang, termasuk yang saat ini sedang berjuang melawan kanker,” papar Wulan Guritno mewakili Alkimia Production saat ditemui kemarin sore.


Untuk OST I am Hope, Alkimia menggandeng grup RAN untuk menyanyi lagu berjudul “Nyanyian Harapan”, lagu ini juga mengajak 8 Warrior Hope bernyanyi bersama.
“Kami merasa bangga bisa menjadi bagian dari I am Hope melalui musik. Inspirasi para pejuang harapan adalah satu semangat yang perlu kita dukung dan sebarluaskan. Semoga kisah I am Hope ini menjadi pemicu lebih banyak aksi kebaikan,” ungkap salah satu personil RAN.

Dengan film sebagai media kelanjutan kampanye, Alkimia berharap bisa menjadi jendela universal bagi visi dan misi Gerakan Gelang Harapan guna menyebarkan harapan dan semangat khususnya bagi para penderita kanker beserta keluarganya, dan umumnya bagi semua lapisan masyarakat tanpa kecuali.
Sebagian profit dari penjualan tiket I am Hope, akan diberikan kepada penderita kanker dan keluarganya yang tidak mampu.


Sinopsis:

Mia 21 tahun (Tatjana Saphira) adalah seorang perempuan yang sangat berkeinginan keras untuk membuat pertunjukan. Namun mimpi tersebut harus terhenti saat ia divonis mengidap kanker, penyakit sama yang pernah merenggut nyawa ibunya.

Mia yang tadinya berasal dari keluarga serba berkecukupan, kini harus hidup ala kadarnya karena kekayan orang tuanya habis untuk biaya pengobatan ibunya terdahulu. Dan semenjak divonis kanker, di saat itu juga ia merasa seluruh pengalaman kelam yang pernah menimpa keluarganya akan kembali terulang.

Ayahnya (Tio Pakusadewo) akan kembali terpuruk, ekonomi makin merosot, dan yang paling membuatnya takut, adalah mimpinya akan perlahan sirna.

Beruntunglah Mia selalu ditemani oleh Maia (Alessandra Usman) yang setia dan bersikap positif di sampingnya.

Mia pun lebih tegar berjuang menguatkan diri untuk menghadapi beberapa proses kemoterapi, sampai hampir seluruh tabungan yang telah ia persiapkan untuk membuat pertunjukan habis terpakai. Pada suatu hari di antara ronde-ronde pengobatan yang ia jalani, Mia mencoba untuk menghubungi salah seorang produser pertunjukan ternama melalui alamat yang ia miliki.

Semua kisah dalam “I am Hope” the Movie mampu membangkitkan harapan di tengah keterpurukan. Bagaimana Mia menjadi simbol dalam perjuangan untuk menggapai impian di tengah kondisinya yang terpuruk.

Bagaimana kisah akhir Mia sebagai simbol Harapan? Dont Miss It tonton film I am Hope pada 18 Februari 2016

Cuplikannya bisa dilihat di:
https://youtu.be/TBeF_Yu7z3M dan http://iamhopethemovie.com

Selain menghadirkan dua sosok aktris muda berbakat Tatjana dan Alessandra, I am Hope juga didukung deretan aktor dan aktris kebanggaan Indonesia seperti Tio Pakusadewo, Fachry Albar, Feby Febiola, Fauzi Baadilah, Kenes Andari, Ariyo Wahab, Ray Sahetapy dan Ine Febriyanti. Flm ini disutradarai oleh Adilla Dimitri dan didukung oleh peraih piala Citra, Yudi Datau selaku Director of Photography.