Ngobrol Migas Bareng Nitizen

Pada tanggal 4 Desember 2015 kemarin, saya berkesempatan menghadiri undangan dari Humas SSK Migas untuk menghadiri acara 'Ngobrol Migas Bareng Netizen' di Restoran Kembang Goela, Plaza Central, Jakarta.


Terus terang, saya tidak terlalu banyak tahu tentang Migas, kurang lebih standarlah dengan mayoritas orang awam lainnya, bahwa kata migas itu berasal dari kata minyak dan gas. 

Di mana orang yang bekerja di sektor ini bertanggung jawab dalam pencarian, pengadaan, dan pengawasan minyak dan gas yang ada di Indonesian. Dulu banyak orang yang beranggapan bekerja di perusahan Migas itu enak dan banyak duit. Hehehe ... mungkin anggapan inilah yang membuat orang mempersulit tim survey SSK Migas dalam pencarian lokasi yang mengandung minyak bumi.

Dalam acara ini, Bapak Elan Biantoro  selaku  Kepala Bagian Humas SSK Migas, banyak memberi penjelasan, mulai dari letak geografis negara kita sampai cara pengolahan minyak dan gas itu sendiri. Rumit dan cukup berat, namun sebisa mungkin akan coba saya rangkum.

           

Nilai pengadaan migas tahun 2014  mencapai US$ 17,35 miliar atau setara Rp 235,9 triliun. Partisipasi BUMN  periode 2010-2014 sebesar US$ 4,507 miliar atau sekitar Rp 61,3 triliun.
Penerimaan Negara dari Sektor Migas  Nasional, tahun 2014, sekitar Rp 345 triliun, sedangkan belanjanya mencapai Rp 209 triliun dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 899.400 orang.


Pelajaran Geografi dari Pak Elan Biantoro.
Negara kita memiliki pulau terbanyak di dunia dan garis pantai terpanjang di dunia. Berada di Eurasian Plate di mana terdapat garis Selat Sunda yang menghasilkan gunung berapi di sepanjang pulau Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara. Begitupun dengan gunung yang berada di Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, hingga ke Irian Barat.

Struktur pegunungan dan letak geografis negara kita membuat lempeng-lempeng yang ada di bawah laut bergerak  perlahan, hal ini yang menghasilkan minyak dan gas.

Minyak disebut crude oil atau petroleum, yang berasal dari kata Petra, bahasa Latin yang berarti batuan dan Oleum bahasa Yunani, yang berarti minyak. Petroleum berarti minyak batuan.

Karena memang minyak bumi berkumpul di antara bebatuan di dalam tanah, di antara pori-porinya.

Minyak dan gas bumi, berasal dari sisa organisme, baik hewan dan tumbuhan, yang telah mati dan mengendap di dasar laut atau danau berjuta-juta tahun lalu. 

Mereka semua terkubur di dalam batuan sedimen berbutir halus atau dikenal dengan lempungan. Pengaruh temperatur dan tekanan, unsur hidrogen dan karbon dari material organik tersebut lah yang berubah menjadi minyak dan gas.

Minyak bumi berada pada kedalaman 4000 meter di bawah permukaan tanah. Tidak mudah mendapatkannya para ahli harus  menggunakan foto satelit, barulah mengevaluasi. Cara lainnya adalah dengan cara geofisika, yang menggunakan metode seismik. Metode seismik itu seperti menciptakan gempa buatan dan kemudian mencari getaran pantulan yang ditangkap oleh geophone. 

Survey dan penelitian itu bisa berlangsung selama 6-10 tahun, dilakukan oleh investor, bukan dari pemerintah. Proyek ini mahal dan penuh resiko. Maka perlu keahlian, keterampilan dan teknologi yang  tinggi.
Setelah yakin, lokasi mengandung minyak, maka barulah dibuat sumur. Perlu diketahui, tidak semua sumur pengeboran itu menghasilkan migas sesuai dengan yang  diharapkan.

Rasio keberhasilannya adalah 3:7. Artinya dari 10 sumur pengeboran yang dibuat, hanya 3 sumur yang menghasilkan minyak. Kalau sudah berhasil menemukan migas, investor bisa menghubungi pemerintah untuk dibuatkan surat perjanjian, serta pembagian keuntungan. Eksplorasi ini bisa menghabiskan waktu sekira 30 tahun.

Untuk di darat bisa menggunakan dinamit yang sudah di sesuaikan penggunaannya, sedangkan di lautan harus menggunakan kompresor agar tidak merusak biota laut.
Untuk saat ini wilayah Indonesia bagian timur penyumbang utama migas.

Sungguh perjalanan panjang dan berliku dari sebuah cerita mencari Emas Hitam yang teramat sangat mahal.