KEPADA ‘B’


B! Tak terasa Desember sudah kembali menyapa. Masih ingatkan kamu dengan bulan ini? Ah!… waktu begitu cepat berlari meninggalkanku yang ternganga dengan kenangan.

Aku benci kala memori itu datang mengusik beserta hujan yang tak jua berhenti, menambah Desemberku kian kelabu. 
Meski terentang waktu yang tak terhitung, namun aku masih saja rapuh bila Desember tiba.

B!…Ternyata aku tak pernah bisa membunuh perasaan ini, kamu masih saja menjadi elegi biru yang tak pernah bisa beku dimakan jarak, ruang dan waktu sekalipun.

B! Aku rindu…
Rindu, saat-saat kita masih bersama berbagi suka, duka merangkai cerita. Rindu pada tawa, canda, bawelmu bahkan pada pertengkaran kita yang dulu sangat aku benci. Aku kangen bandelmu B!

B! Cuma kamu yang mengatakan aku jelek, malas, jorok, jutek! Cuma kamu yang paling tau cara membuat semangatku kembali menyala. Aku suka caramu melakukanya. Meski tak ada satupun kata-kata manis yang pernah terucap darimu, tapi tetap aku rindu B! 
Teramat sangat rindu.

Dan setelah ada dia pun kamu tetap tak pernah bisa terganti. Dia bisa memiliki ragaku tapi tidak hatiku. Bukan aku tidak mencoba tapi aku tak bisa.

B! kamu mentari yang senantiasa hangatkanku, bayangan kala senjaku, irama detak jantungku, kau sebagian dari helaan nafasku. Kau adalah separuh jiwaku B!

B! sejak kepergianmu, hatikupun ikut terkubur bersama jasadmu. Tahukah kamu bagaimana rasanya hidup tanpa hadirmu? Tanpa cintamu? Aku hampir tak sanggup menjalaninya, namun senyum Sang Bintang yang membuatku tetap bertahan.

B! 16 tahun bukan waktu yang singkat untuk aku jalani tanpa cinta!
Enam belas tahun B! Dan kini tiba-tiba ada seseorang mencoba mengisi kekosongan itu. Salahkah B?

B! rasa itu begitu manis namun juga menyakitkan. Aku rindu perasaan seperti ini, tapi aku juga takut.
Ah! … kamu pasti menertawakan aku bila tahu saat ini aku bersikap seperti anak remaja, mengelikan memang.

Tapi begitulah adanya. Aku sendiri benci melihat tingkahku yang tak tahu malu. Tapi apa dayaku rasa itu begitu kuat, datang tanpa bisa aku cegah. Salahkah B?

Aku takut B!
Takut terluka dan melukai dia dan dirinya. Hidupku selalu saja complicated. Tanpa ujung dan pangkal. Selalu melingkar pada masalah yang menjadi masalah.

B! doaku selalu untukmu, semoga kamu bahagia di sana, dan aku disini pun semoga bisa kuat menjalani hidup meski tak pernah indah. Bahagiaku pun hilang bersamamu B!
B! kamu tetap Bku yang takkan terganti meski hadir B yang lain.