CERMIN

Intermezzo
Senin sore with Arthur

               Sejak pagi awan gundah gulana mendung tak bersahabat. Sepertinya langit sedang galau, dan siang pun ia menangis. Mencurahkan isi hatinya pada bumi. Mendukung banget suasana hatiku hari ini.

              Gigil memanggilku untuk kembali ke hangatnya peraduan. Maka terdamparlah aku di sana dari siang hingga sore. Ya, begitulah sang putri tidur hanya menghabiskan waktu di kasur.

               Menjelang sore aku baru terjaga dari mimpi. Itu pun setelah Arthur mengguncang tubuhku entah untuk yang ke berapa kalinya. Huaaah! ... mimpi indah pun berakhir.

"Ma, jalan yuk, bosan nih!" rajuknya.
"Ke mana? Dingin ah, mama malas mandi!" balasku tak acuh sambil menarik kembali selimut.
"Ma ...! Ayo dong, katanya mau nonton?" tanyanya sambil menarik selimut yang tengah menghangatkan tubuhku.
"Besok lagi aja ah, males!" jawabku.

           Setelah berdebat dengan alot dan sengit akhirnya dia menang. Aku pun mau tak mau harus merelakan diri diguyur air dingin biar badan terasa segar dan kantuknya hilang.

             Jadilah kita menghabiskan sore berdua dengan nonton di Teras Kota. Mall kecil yang tak jauh dari rumah. Filmnya bikin tambah galau. Aku tertawa hingga menangis dibuatnya. Hik ... hik ... Benar-benar menguras perasaan. Tapi anakku malah bilang aku lebay!

              Setelah selesai aku dan si cerewet duduk-duduk di taman dengan berbekal ice cream dan air mineral.

"Ma, jodoh siapa yang ngatur?" tanyanya tiba-tiba.
"Ya Tuhanlah!" jawabku.
"Salah! Kita yang ngatur Tuhan yang merestui," balasnya.
"Cinta tanpa usaha sia-sia Ma. Cinta harus diperjuangkan," lanjutnya.

              Jleb! Aku memandang dia dengan takjub. Ice cream yang begitu lembut kutelan dengan susah payah.Omg kalah lagi sama dia.