For My Dearest Sister

Mungkin saat ini kamu bingung dan tidak mengerti dengan sikapku yang tiba-tiba bermuram durja tak jelas. Tapi kamu ingat kan percakapan kita beberapa hari yang lalu?

Ya, waktu itu aku pernah bilang kalau kita akan sedikit bersitegang. Tapi terus terang, aku gak pernah menyangka bila saat itu akan tiba secepat ini dan yang paling kubenci, kita ribut karena sesuatu yang gak penting. Dan sesuai dengan janjiku, apapun yang terjadi diantara kita, kamu tetap kakak, sahabat, teman yang paling aku sayang, sampai kapanpun.

Aku tahu di balik sikapku yang keras kadang aku kekanak-kanakan dan manja. Mungkin hal itu dipengaruhi oleh hidupku yang juga keras
.
Satu yang harus kamu tahu dan ingat, aku tak pernah membencimu. Meski aku kecewa dengan sikapmu. Kamu dan dia kenal lebih dulu, kalian telah lama ada di satu lingkaran yang sama, sedangkan aku, hanya seseorang yang masuk karena keadaan. Aku ada di sana karena kamu, aku kenal mereka dan dia karenamu. 

Satu yang kusesalkan, saat aku dekat dengannya, tak seorang pun mencoba mengingatkanku. Kalian hanya tertawa saat aku jatuh. "Makanya jangan main debus kalau belum kuat terbakar," kata-kata itu dan entah apa lagi yang sering kalian olok-olokan terhadapku. Tapi sebentar, bukan hal itu yang membuatku marah, aku kesal karena kalian tahu sesuatu tapi kalian hanya diam. Seperti itukah sikap sayang kalian terhadapku?

Kamu mungkin tidak tahu betul apa yang terjadi antara aku dan dia. Atau mungkin tidak mau tahu meski aku atau dia bercerita. Aku hargai sikapmu itu. Dan sesuai janjiku semula saat dekat denganya, aku akan bersikap dewasa tidak akan mencampur adukan masalah pribadiku dengan kepentingan bersama. Tapi seperti yang kamu lihat, aku sudah berusaha bersikap biasa, meski perasaan ini sangat terluka. Aku juga tahu posisimu serba salah dan tak bisa memihak. Tapi satu pintaku, tolong hargai perasaanku sedikit saja.

Hal lain yang sering membuatku kesal adalah kadang kamu gak pernah bisa membaca situasi, gak pernah mencoba menimbang rasa, menempatkan diri dan bagaimana harus bersikap terhadap keadaan disekitarmu.

Mungkin karena kamu tak begitu mengenal baik tabiatku yang keras, sedikit pendendam dan sulit memaafkan. Aku tahu betul sifat itu teramat sangat jelek, tapi apa boleh buat, aku tak bisa dan belum bisa merubahnya.

Dan hari ini, aku benar-benar tak bisa lagi berpura-pura dan dan menahan diri untuk tidak marah. Amarah yang aku simpan harus buncah karena egoku sedikit terluka. Bukan karena dia memilihmu atau lebih percaya padamu, tapi aku merasa tak pernah ada dilingkaran kalian. Selama ini aku selalu merasa terasing di tengah kegaduhan kalian, aku selalu merasa berbeda. Semua bukan salahmu, mereka atau dia, tapi salahku yang memaksakan diri berada di sana, padahal jelas-jelas aku berbeda dan tak tahu apa-apa.

Aku lelah, teramat sangat lelah dengan semua emosi ini. Mungkin dengan tak lagi bersama kalian semua bisa lebih baik. Terus terang, semua ini sunguh berat untukku, aku terlanjur menyayangi kalian tapi aku tidak tahu harus bagaimana bersikap. Aku sangat berharap kamu pun tak membenciku karena semua sikap dan sifat jelekku. Kamu tahu, di dasar hati ini aku teramat sangat menyayangimu dengan semua kekurangan dan kelebihanmu.



Your dear sister
         Mia