Untuk Seseorang Yang Telah Melepaskanku

Entah berapa lama kita tidak saling bertegur sapa, baik lewat maya manapun dunia nyata. Rasanya masih sulit untuk bersikap biasa kembali seperti saat kita belum memiliki perasaan lebih dan akrab.

Seperti kemarin, yang kuingat kita tak ubah es dalam frezeer yang beku saat bertemu. Meski saling berusaha bersikap biasa saja, tapi tak bisa dipungkiri kita masing-masing merasa tak nyaman.

             

Ah, sudahlah! Hal itu manusiawi bukan? Percayalah, tak hanya kau dan aku yang merasakan itu. Banyak di luar sana yang merasakan hal yang sama.

Saat ini aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena masih menghargai aku sebagai teman, mungkin ini jalan terbaik untuk kita, tak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Aku percaya Tuhan memiliki rencana indah untukku.

Hemhhh ... mungkin terasa aneh saat kau membaca tulis ini, begitupun dengan aku. Hahaha ... tolong jangan berpikir macam-macam, aku hanya ingin berusaha jujur dan mengungkapkan apa yang selama ini aku rasakan, tak lebih dari itu. Maaf bila coretan ini mengganggumu.

Dulu, saat bersamamu aku pernah merasa bahagia. Entah karena apa. Mungkin karena kamu datang disaat aku dilanda kesepian, mungkin pula karena cara kamu memperlakukanku mengingatkan aku akan seseorang yang dulu sempat singgah di dalam hidupku.

Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta, tapi denganmu aku langsung jatuh sayang meskipun tahu statusmu tak lagi lajang. Ironis memang. Chattanmu dan candamu bisa membuatku tertawa lepas, hingga hari-hariku ceria. Kau juga mampu menyenangkanku. Dan yang paling aku suka adalah mendengarkan cerita dan berdiskusi denganmu. Seolah waktu berlari dengan cepat dan tak pernah cukup saat kita bersama. Dulu kamu begitu hangat dan menyenangkan, meski seringkali kamu asyik sendiri.

Perlu kamu tahu, sejak awal aku tidak pernah meminta atau menuntutmu untuk memilih antara aku dan dia. Mengapa harus ribet bila masing-masing merasa nyaman. Tak perlu saling membebani, cukup tahu sama tahu saja. Dan bila aku bertanya tentang kabarmu, itu karena aku rindu dan peduli denganmu. Hanya itu yang ada di benakku selama ini.

Kau membuatku buta, hingga lupa bila semua pertemuan pada akhirnya akan berujung pada perpisahan. Dan meski perpisahan ini begitu menyakitkan namun aku berusaha untuk tak menyesalinya. Aku berterima kasih karena kamu telah mampir dan menjadi bagian dari kisah hidupku yang tak mungkin bisa aku lupa.

Dan bila hingga saat ini aku belum bisa memaafkanmu sepenuhnya, bukan karena aku kecewa, mungkin aku masih butuh waktu untuk mencerna apa yang telah terjadi diantara kita. Terima kasih juga karena kau telah melepaskan dan memberiku luka.

Tunggu-tunggu, aku tak berniat menyinggungmu dengan ucapan berterima kasihku. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku berterima kasih karena secara tak langsung kamu membuatku belajar mengerti dan memahami arti sakit itu sendiri. Sungguh tak terbayang bila kita masih bersama, kita berdua dengan sengaja telah menyakiti hati seseorang meski aku tak berniat merebutmu. Dan entah berapa dosa yang akan tercipta bila aku tetap di sampingmu.

Aku tak bermaksud menggungkit semua ini. Aku hanya ingin belajar memaafkan diri sendiri dan tak saling menyalahkan. Semua alur cerita kita seolah telah tertata rapi, dari awal pertemuan ke pertemuan lainnya. Meski singkat semua begitu indah, hingga saat itu tiba. Kau mulai menjauh dan menjadi orang tidak aku kenal. Kau selalu memintaku untuk mengerti, telah aku coba namun ternyata kau memilih untuk melepaskanku.

Terus terang aku terluka teramat sangat terluka. Kau memperlakukanku tak ubah seperti tisue yang habis dipakai lalu kau buang. Aku mengerti alasanmu, namun tetap saja aku merasa terhina. Itu saja.

Saat ini keinginku sederhana, aku ingin kita kembali berteman seperti dulu tetap menjadi saudara yang bisa bertegur sapa tanpa beban. Jangan pernah bosan untuk mengerti aku. Biarlah aku kehilanganmu sebagai kekasih namun tidak sebagai teman.

Kau tahu, karenamu aku belajar tentang arti ketulusan memberi tanpa memiliki. Ikhlas melepas meski diri sendiri terhempas. Ingatlah saat kau memilih untuk menjalin komitmen dengan pasanganmu, keinginan diri bukan hal yang utama. Kamu harus belajar memahami untuk bisa dipahami.

Perlu kamu tahu juga aku ikut bahagia melihatmu banyak berubah dan bahagia dengannya. Dan semoga kebahagiaan itu terus menjadi milikmu.

Sekali lagi aku ucapkan terimakasih, karena telah melepaskanku.

#Darikuseseorangyangdulukausebutcinta