Jejak Road Show Novel 180 Di Jakarta

Akhir tahun lalu saya pernah mendengar tentang novel dengan judul 180 karya novelis senior Kang Noorca M. Massardi yang berkolaborasi dengan Mohammed Cevy Abdullah. Namun sayang acara yang diadakan di Botani Square itu tidak dapat saya hadiri karena keterlambatan informasi.

Setelah sukses road show di Bogor serta Bali dan hanya bisa mendengar beritanya saja, hari ini tanggal 4 Februari 2016, kesempatan itu akhirnya datang kepada saya, maka dengan semangat siang ini mendatangi Taman Ismail Marzuki, Jakarta guna bertemu dua novelis tersebut. Alhamdulillah banget selain bisa bersua dengan para senior, saya pun mendapatkan novelnya.

Sebelum berbincang & berbagi Novel 180, acara dibuka oleh Kang Noorca dengan penayangan dokumentasi peluncuran novel 180 di Botani Square Mall serta  trailer film pendek berjudul  Red Code yang ditulis, disutradarai dan diproduksi oleh Mohammed Cevy Abdullah. Film yang menarik, termasuk bagus untuk seorang pemula yang tidak tahu apa-apa tentang dunia perfilman.
Lalu dilanjutkan dengan pembacaan kutipan novel 180 oleh tokoh teater Jose Rizal Manua.

Acara terasa lebih hangat saat perbincangan dimulai dengan tanya jawab tentang novel 180 dengan dua pengarangnya yang di pandu oleh Heryus Saputro.

Ada yang unik dengan novel ini, untuk road show sengaja di cetak dalam tiga versi warna, yaitu hitam, merah dan putih. Sedangkan nantinya hanya akan dicetak dengan warna hitam saja. Dan 10.000 eksemplar akan dibagikan gratis selama acara road show yang rencananya akan keliling Indonesia ini.


Selain cover novelnya yang unik, ternyata penulisannya, yaitu Kang Cevy juga menarik. Pengusaha muda kelahiran Cipanas, Cianjur, Jawa Barat ini telah menulis draft novelnya sekitar 10 tahun yang lalu dan baru cocok setelah bertemu dengan Kang Noorca yang notabene seorang penulis senior, setelah menjajal berkolaborasi dengan dua penulis lainnya.

Laki-laki dengan penampilan sederhana ini adalah dokter hewan lulusan IPB, sedang S1 dan S3-nya ia mengambil jurusan hukum.

Menurutnya, ia sengaja menulis novel tersebut karena rasa pedulinya terhadap perkembangan sosial dan psikologis masyarakat saat ini. Terutama "Y Generation" di negara kita. Dia berharap bisa menyampaikan pesan sosialnya melalui novel, yang sarat nilai filosofi kehidupan yang penuh dengan fake, freak dan   false.

Sedangkan Kang Noorca sendiri mengaku baru pertama menulis novel bersama, ia sangat menikmati prosesnya. "Saya baru mengenal Kang Cevy 14 bulan yang lalu, tapi ternyata kami miliki kesamaan visi, misi, karakter dan konsep dalam menulis. Semua berjalan lancar, terutama karena niat kita memang sejalan," jelas pria kelahiran Subang ini.

Siapa yang tidak kenal Kang Noorca. Lulusan Ecole Superieur de Journalism  (ESJ) Paris, Perancis ini, selain dikenal sebagai penulis novel, ia juga seorang jurnalis dengan berbagai prestasi.

Awalnya dia merasa heran dan tertantang dengan novel 180 ini, karena Kang Cevy meminta untuk menyelesaikannya dalam tempo 4 bulan, padahal dia selama ini selalu menghabiskan waktu lebih dari setahun untuk karya fiksinya.

Acara yang dihadiri oleh para senior dibidang jurnalis ini ditutup dengan foto bersama dan penandatanganan novel 180, yang didapat dengan gratis untuk 50 undangan pertama.


Yehaaa ... penasaran dengan tokoh Tora dalam novel 180 yang bikin saya senyum-senyum saat mendengar penjelasan Kang Noorca. Menarik karena konon pembaca tidak bisa membedakan tulisan Kang Noorca dan Kang Cevy di dalamnya. Buat yang pernah baca karya Kang Noorca, pasti terasa bedanya.
*foto koleksi pribadi.