Ngenest, Menertawakan Hidup Ala Ernest

Senin, 28 Desember 2015, berkat KOPI saya bisa nonton screening film NGENEST di bioskop XXI, Epicentrum, Kuningan-Jakarta, padahal ngincernya gala premier sih. Hehehe ...


Awalnya gak begitu antusias karena udah hope less gak bakalan dapet seat, tapi berkat kebaikan Ka Arul, ehemm ... akhirnya bisa nonton juga. Terima kasih Kakak Arul yang ganteng dan baik.

Saya sudah berada di lokasi sejak jam 11:30, padahal filmnya dimulai jam 3:00, maklumlah saya kan bloher teladan. Wkwkwk ... *padahal salah baca jadwal. Upssst. Hahaha  ....

Film yang bergenre komedi ini di ilhami dari novel triloginya Ernest Prakarsa  sendiri dengan judul yang sama NgenestNgetawain Ala Ernest, yang laris manis di pasaran.

 Dalam film ini Ernest maruk banget, selain jadi penulis, doi juga bertindak selaku sutradara, penulis script dan pemain. Hadehhh ...

Lucu dan kocak abis nih film, cocok buat nyambut Imlek. Ceritanya ringan tentang bully membully antar etnis minoritas, meski miris sih sebenarnya. Trus ada beberapa joke yang agak kasar dan sedikit vulgar, tapi mau gak mau itu adalah fenomena keseharian di negara kita.

Ernest  Prakarsa
Morgan Oey











Di sini Ernest mengajak penonton menertawakan mirisnya kehidupan dengan cara berbeda. Pokoknya Ngenest banget deh.

Chemistry yang dibangun antara Ernest,  Morgan Oey dan Lala Karmela  dapet banget, menurut Ernest, hal itu diawali dengan curhat-curhatan.

Dapat bocoran dari Morgan Oey, doi baru pulang dari Korea, dan usut punya usut ternyata di sana dia lagi syuting film terbarunya, Hijab Traveler bareng  Laudya Chynthia Bella.

Prescon di Alegro Cafe Jakarta
   
Sinopsis :

Ernest (Kevin Anggara/Ernest Prakasa)  tidak pernah bisa memilih oleh siapa dan bagaimana ia akan dilahirkan. Dan nasib yang  menentukan, ia terlahir di sebuah keluarga Cina. Tumbuh besar di masa Orde Baru dimana diskriminasi terhadap etnis minoritas ini masih begitu kental.

Bullying menjadi makanan sehari-hari. Ia pun berupaya untuk berbaur dengan teman-teman pribuminya, meski ditentang oleh sahabat karibnya, Patrick (Brandon Salim/Morgan Oey). 

Sayangnya berbagai upaya yang ia lakukan tidak juga berhasil, hingga Ernest sampai pada kesimpulan bahwa cara terbaik untuk bisa membaur dengan sempurna adalah dengan menikahi seorang perempuan pribumi.

Ketika kuliah di Bandung, Ernest berkenalan dengan Meira (Lala Karmela), meski awalnya mendapat tentangan dari Papa Meira (Budi Dalton), tapi akhirnya mereka berpacaran. Dan kemudian menikah, dengan adat Cina demi membahagiakan Papa dan Mama Ernest (Ferry Salim dan Olga Lidya).

Berhasil menikah dengan perempuan pribumi ternyata tidak menyelesaikan pergumulan Ernest. Ia mulai dirundung ketakutan, bagaimana jika kelak anaknya terlahir dengan penampilan fisik persis dirinya? Lalu harus mengalami derita bullying persis dirinya? Ketakutan ini membuat Ernest menunda-nunda untuk memiliki anak. So bagaimana kisah selanjutnya?

Tonton selengkapnya di NGENEST   Kadang Hidup Perlu Ditertawakan pada tanggal 30 Desember 2015 mendatang.

Penulis :Ernest Prakarsa
Cerita : Ernest Prakarsa & Meira  Anastasia
Sutradara : Ernest Prakarsa
Produser : Chad Parwes Servia & Fias Servia  (Star Vision)
Cast: Ernest Prakarsa, Morgan Oey, Lala Karmela, Olah Lidya, Ferry Salim, Brandon Salim, Kevin Anggara, Fitria Sechan, Chika Jessica, Amel Carla,  Arie Kriting, Budi Dalton, Regina Rengganis.
Ost:Theovertunes


Warga KOPI yang selalu eksis
*Foto koleksi pribadi, by Andrian dan Eddy Kopi